Gajah Mati akibat Petasan, Pengawas Satwa Sebut Pembunuhan Paling Sadis

Anton Suhartono · Kamis, 04 Juni 2020 - 21:19:00 WIB
Gajah Mati akibat Petasan, Pengawas Satwa Sebut Pembunuhan Paling Sadis
Gajah di India mati setelah memakan buah yang di dalamnya ditaruh petasan (Foto: IANS)

NEW DELHI, iNews.id - Departemen Kehutanan Kerala memburu pelaku pembunuhan sadis terhadap gajah berusia 15 tahun yang sedang hamil.

Pelaku membunuh gajah tersebut dengan cara meledakkan mulutnya pakai petasan. Petasan itu dimasukkan terlebih dulu ke nanas lalu diberikan sebagai makanan bagi gajah. Hewan malang itu mati perlahan beberaa pekan kemudian akibat luka parah.

Pengawas Satwa Liar Taman Nasional Silent Valley Samuel Pachuau mengatakan pembunuhan sadis gajah ini merupakan kejahatan serius.

"Kami sangat yakin akan menangkap para pelaku kejahatan yang sama sekali tidak dapat diterima ini. Pada 23 Mei kami mengetahui kejadian ini, saat menemukan gajah di dekat sumber air di luar taman nasional," kata Pachuau, dikutip dari IANS, Rabu (3/6/2020).

Gajah nahas itu sempat dirawat beberapa hari namun nyawanya tak tertolong.

Menurut dia, ada beberapa petasan besar dimasukkan ke nanas yang saat dikunyah tiba-tiba meledak.

Ahli satwa David Abraham mengatakan, kejadian tersebut diperkirakan belangsung lebih dari 2 pekan sebelum hewan ditemukan.

Menurut Abraham, berdasarkan pemeriksaan, luka di mulut gajah tampak sudah lama, bahkan sudah dipenuhi cacing.

"Kami memberi tahu pejabat kehutanan bahwa kondisinya sudah sangat buruk dan 2 hari kemudian gajah itu mati dalam posisi di air,” ujarnya.

Keesokan harinya, petugas mengautopsi dan menemukan janin berusia hampir 2 bulan.

“Dari rahim kami bisa menentukan bahwa ini merupakan kehamilan pertama sang gajah. Pemandangan itu membuat kami sangat sedih,” katanya.

Selain itu hasil autopsi mendapati rahang atas dan bawah serta gigi dan lidah rusak parah.

Kasus pembunuhan gajah secara sadis ini ditangani dua tim. Konflik manusia dan gajah biasa terjadi di taman nasional itu, namun ini merupakan pembunuhan paling sadis.

Editor : Anton Suhartono