Gaza Kota Tanpa Rumah: 92% Bangunan Hancur, Rekonstruksi Butuh Keajaiban
“Perumahan adalah jantung kehidupan Gaza. Tanpa rumah, tidak ada keluarga, tidak ada masyarakat, tidak ada kehidupan yang bisa dimulai kembali,” ujar Mamoun Besaiso, penasihat PBB untuk rekonstruksi.
Ribuan keluarga kini berlindung di sekolah rusak, di reruntuhan gedung, atau di tenda-tenda darurat yang tidak tahan hujan dan dingin malam.
“Anak-anak tidur di lantai dingin, ibu-ibu memasak di bawah terpal plastik, dan setiap pagi mereka bertanya kapan bisa pulang. Masalahnya, mereka tak lagi tahu di mana rumah mereka berada,” kata Ahmed Bayram, dari Dewan Pengungsi Norwegia (NRC).
Tantangan Besar: Blokade dan Politik
Namun membangun kembali Gaza bukan perkara teknis. Setiap batu, semen, atau baja yang masuk ke wilayah itu harus melewati izin Israel.
Bagi banyak pihak, inilah paradoks terbesar, negara yang menghancurkan Gaza justru memegang kunci untuk membangunnya kembali.
“Dunia bisa mengumpulkan miliaran dolar, tapi tanpa akses bahan bangunan, semua hanya janji,” ujar Bayram.
Untuk membangun kembali Gaza dari nol, dibutuhkan kerja sama global, seperti Marshall Plan untuk Eropa pasca-Perang Dunia II. Namun kali ini, bukan sekadar membangun infrastruktur, melainkan mengembalikan hak dasar, yakni rumah, air, dan rasa aman.
Editor: Anton Suhartono