Hari Valentine yang Sunyi di China: Ketika Perasaan Cinta Terhalang Virus Korona

Nathania Riris Michico ยท Jumat, 14 Februari 2020 - 14:31 WIB
Hari Valentine yang Sunyi di China: Ketika Perasaan Cinta Terhalang Virus Korona

Pasangan China berjalan di sepanjang jalan di Hari Valentine di Beijing pada Februari 2017. (FOTO: NICOLAS ASFOURI / AFP)

BEIJING, iNews.id - Hari ini seharusnya menjadi acara yang menyenangkan bagi Jiang Lanyi: berjalan di taman klasik di Suzhou, menikmati seni modern di Shanghai, berseluncur di pusat Kota Beijing.

Namun, perempuan berusia 24 tahun dan pacarnya dari Ukraina itu malah menghabiskan lebih dari dua pekan di rumah orangtuanya di Provinsi Liaoning untuk menghindari virus korona baru.

Pasangan-pasangan di seluruh China tinggal di rumah saat Hari Valentine yang tenang tahun ini. Dengan makin masifnya penyebaran COVID-19, warga muda memilih tetap di rumah tanpa menggelar perayaan romantis.

Penyakit baru ini menginfeksi hampir 64.000 orang dan menewaskan lebih dari 1.350 di China, memicu pembatasan transportasi, penutupan restoran, dan penutupan lokasi wisata.

Bisnis di seluruh negeri dari toko bunga hingga ruang konser tutup, tidak ada acara apa pun, sehingga para pasangan tidak punya pilihan selain mendekam di rumah.

Bagi Jiang dan pacarnya, Hari Valentine tahun ini berarti mahjong.

"Kami bermain dua hingga tiga jam setiap hari," kata Jiang, yang bertemu dengan rekannya, seorang pengusaha teknologi, saat belajar di London.

"Setelah mulai belajar dari nol, dia sekarang sangat terampil (bermain mahjong)," kata dia.

Di Beijing, Hari Valentine spesial yang ditujukan untuk pasangan -dari konser "My Heart Will Go On" hingga makan malam lobster seharga 1.688 yuan (240 dolar) untuk dua orang- dibatalkan.

"Hari Valentine tahun ini tidak akan jauh berbeda dari kehidupan sehari-hari di bawah karantina," kata Tyra Li, warga yang tinggal di Beijing bersama pacarnya selama hampir tiga tahun.

Sejak Tahun Baru Imlek, selain dari perjalanan mengunjungi keluarga, pasangan ini hanya meninggalkan rumah untuk membeli bahan makanan -mereka bahkan tidak memesan makanan delivery karena takut terinfeksi.

"Pasti tidak akan ada bunga," kata perempuan berusia 33 tahun itu, kepada AFP.

"Saya tidak berani menerimanya dan dia (pacarnya) tidak berani membelinya."Virus korona juga mempersulit kencan romantis, dengan banyak kota di seluruh China menutup lingkungan bagi pengunjung sebagai upaya menahan wabah.

Miao Jing, seorang mahasiswa di Kota Tianjin, mengatakan pacarnya harus menyelinap ke hotelnya melalui tempat parkir untuk bertemu selama tiga jam pada awal bulan ini.

Perjalanan itu seharusnya berlangsung selama tiga hari, jelas pria 23 tahun itu, yang naik kereta api lima jam ke Kota Zhangjiakou untuk menghampiri pasangannya.

Namun pada hari kedua, distrik tempat Miao tinggal melaporkan kasus yang dikonfirmasi dari virus tersebut.

"Dia benar-benar khawatir," kata Miao, kepada AFP.

"Pada akhirnya, saya hanya melihatnya pada hari pertama."

Bagi Shaw Wan (28), yang bekerja di proyek film dokumenter pendek di Beijing, wabah memisahkan dirinya dan pacarnya -yang berada di Taiwan- entah sampai kapan.

"Saya juga tidak ingin dia kembali (ke China) -bagaimana jika dia terinfeksi dalam perjalanan kembali (ke Taiwan)?" katanya, kepada AFP.

Namun, bagi Li di Beijing, terkurung di rumah berarti lebih banyak waktu dengan pacar. Di masa lalu, keduanya sangat sibuk dan hanya bertemu setelah pukul 22.00 pada hari kerja.

Berbeda dengan Miao dan pacarnya, yang berada dalam hubungan jarak jauh; menjadi relawan dalam pekerjaan bantuan di tengah wabah menbuat mereka justru lebih dekat.

Kedua siswa itu membantu warga dan komunitas di Wuhan, wilayah pusat penyebaran virus, dengan tugas-tugas seperti menelepon untuk mengatur transportasi mobil.

"Ada perasaan bekerja sama," katanya, kepada AFP.

"Bahkan jika kita tidak bisa bersama secara fisik, dalam beberapa hal kita bersama."

Editor : Nathania Riris Michico