Hassaan Shahawy, Muslim Pertama Terpilih Jadi Presiden Harvard Law Review
BOSTON, iNews.id – Harvard Law Review kini punya presiden baru seorang Muslim untuk pertama kali dalam sejarahnya sejak berdiri 134 tahun silam. Dia adalah Hassaan Shahawy, warga Amerika Serikat (AS) keturunan Mesir kelahiran Los Angeles.
Harvard Law Review adalah organisasi bergengsi dalam penerbitan jurnal hukum, yang secara resmi dikelola oleh kelompok mahasiswa independen di Harvard Law School. Keanggotaannya terbatas pada mereka yang dipilih melalui kompetisi menulis.
Melalui pemilihannya sebagai presiden, Shahawy berharap adanya pengakuan akademisi hukum yang semakin meningkat terhadap pentingnya keragaman, bahkan semakin menghormati tradisi hukum berbagai kalangan.
“Berasal dari komunitas yang selalu dihina dalam wacana publik Amerika, saya berharap kehadiran saya membuat beberapa kemajuan, meskipun kecil dan hanya bersifat simbolis,” kata Shahawy yang kini berusia 26 tahun, dikutip Reuters, Sabtu (6/2/2021).
Mereka yang pernah tergabung di Harvard Law Review bukanlah orang sembarangan. Para alumninya kini berkecimpung di berbagai bidang, mulai dari sebagai praktisi hukum hingga politikus masyhur di negeri Paman Sam. Sebut saja mantan Presiden AS Barack Obama, yang diangkat sebagai presiden kulit hitam pertama organisasi itu pada 1990.
Tiga anggota Mahkamah Agung AS yang saat ini menjabat, dulunya adalah editor di Harvard Law Review. Tak terkecuali mendiang hakim agung AS Ruth Bader Ginsburg—yang meninggal pada September 2020—serta mantan hakim agung Antonin Scalia, juga pernah memegang posisi itu.

Shahawy lulus dari Harvard sebagai sarjana pada 2016, dengan gelar di bidang Sejarah dan Studi-Studi Timur Dekat. Dia kemudian melanjutkan kuliah di Universitas Oxford sebagai penerima Beasiswa Rhodes untuk mengejar gelar doktor dalam Studi Oriental, di samping mempelajari hukum Islam.
Shahawy, yang aktif bekerja dengan populasi pengungsi serta berbagai hal terkait reformasi peradilan pidana, mengaku ingin menjadi pengacara untuk kepentingan publik atau sebagai akademikus ke depannya.
Editor: Ahmad Islamy Jamil