Hong Kong Masih Jadi Pusat Miliarder Asia, Total Kekayaan Tembus Rp5.737 Triliun
Altrata mengaitkan penurunan jumlah miliarder Hong Kong dengan pelemahan sektor properti yang berkepanjangan, serta relatif terbatasnya eksposur kekayaan di kota tersebut terhadap kenaikan valuasi perusahaan teknologi yang terdorong oleh perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Perbedaan ini berkaitan dengan struktur kepemilikan kekayaan. Kenaikan valuasi perusahaan teknologi cenderung memberikan keuntungan besar kepada pendiri dan pemegang saham utama yang memiliki porsi saham signifikan, sementara portofolio yang lebih banyak bertumpu pada properti menghadapi kondisi dan tekanan valuasi yang berbeda.
Perkembangan teknologi menjadi salah satu sumber pertumbuhan kekayaan baru secara global. Menurut Altrata, dari 150 perusahaan terbuka yang memberikan kontribusi terbesar terhadap kekayaan miliarder, perusahaan yang melakukan investasi signifikan di bidang AI mencatat pertumbuhan kapitalisasi pasar 23 persen lebih cepat selama 2024-2025 dibandingkan perusahaan yang tidak melakukan investasi tersebut.
Sementara tu, jumlah miliarder di Asia meningkat 6,5 persen menjadi 881 orang. Pertumbuhan tersebut didukung perkembangan teknologi dan penguatan pasar saham di sejumlah negara.
Korea Selatan mencatat salah satu kinerja pasar saham utama terbaik, sementara Taiwan, Jepang dan Hong Kong juga mengalami penguatan. Namun, kenaikan indeks saham secara keseluruhan tidak otomatis berarti jumlah miliarder di suatu wilayah ikut bertambah.