Ingin Perang Lawan Azerbaijan, Sukarelawan Armenia Latih Tempur Pakai Senapan Kayu
Fakta itulah yang mendorong Aghasi Astryan rela meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang IT Specialist di Jerman. Dia menempuh jarak ribuan kilometer untuk bergabung dengan kamp pelatihan militer yang dikelola veteran perang Nagorno-Karabakh era 1990-an.
Astryan mengaku sengaja mengajukan cuti kerja dengan alasan keluarga, lalu kembali ke Yerevan, Armenia. Di wilayah perbukitan Yerevan, pria 29 tahun berlatih perang menggunakan peralatan tempur tiruan AK-47 dari kayu.
"Rencana saya bersiap dan maju ke garis depan," tegasnya.
"Rekan kerja Jerman saya tidak akan mengerti kenapa seorang pria ingin pergi perang. Tapi, saya tahu bahwa kami orang Armenia tidak akan bisa bertahan di banyak negara tanpa mengerti bahwa setiap pria harus bertarung demi tanah airnya," tambahnya.
Astryan merupakan salah satu sukarelawan dari luar wilayah perang yang bergabung dengan VOMA Survival School baru-baru ini. Selain Astryan ada juga sukarelawan yang datang dari Argentina serta Amerika Serikat.
Penggagas VOMA adalah Vova Vatnov, yang pernah bertempur di Nagrno-Karabakh pada 1991-1994 dimana 30.000 orang tewas. Dia kembali ke garis depan pertempuran sebagai pemimpin batalion sukarelawan.
Editor: Arif Budiwinarto