Ini Strategi China dalam Mengatasi Gelombang Kedua Wabah Covid-19

Arif Budiwinarto ยท Kamis, 09 Juli 2020 - 14:34 WIB
 Ini Strategi China dalam Mengatasi Gelombang Kedua Wabah Covid-19

China dianggap mampu atasi gelombang kedua wabah Covid-19 (foto: Okezone)

BEIJING, iNews.id - China dapat dikatakan berhasil meredam gelombang kedua Covid-19 pada Juni lalu. Cara apa saja yang dilakukan Negeri Tirai Bambu dalam menekan virus tidak menyebar lebih luas seperti sebelumnya?

China sempat jadi epicentrum Covid-19 pada Desember 2019, setelah virus pertama menyebar dari Wuhan, Provinsi Hubei, pemerintah Negeri Tirai Bambu bergerak cepat dengan memberlakukan penguncian wilayah (Lockdown) pada Januari.

Setidaknya hampir 60 juta orang dipaksa berada di dalam rumah mereka selama hampir tiga bulan. China melonggarkan aturan lockdown seluruh kota pada akhir April setelah tidak ada lagi kasus baru Covid-19 dalam kurun waktu dua puluh hari.

Namun, pada awal Juni lalu, otoritas kesehatan China kembali "menyalakan sirene bahaya" setelah ditemukan lebih dari 100 kasus baru Covid-19 di Pasar Xinfandi, Beijing. Ini merupakan kasus baru terbanyak pertama setelah "bersih dari Covid" selama 50 hari terhitung sejak lockdown dibuka.

Dalam waktu kurang dari dua pekan, otoritas kesehatan China mengumpulkan laporan kasus baru Covid-19 di Beijing meningkat hingga lima kali lipat menembus angka 600 kasus. Fakta tersebut dianggap cukup untuk menyatakan China dihadapkan pada gelombang kedua Covid-19.

Berkaca pada pengalaman pertama menangani wabah Covid-19, Pemerintah China kembali menetapkan lockdown sebagai langkah awal yang mereka sebut "kontrol tepat". Semua pekerja di bidang makanan dan minuman di seluruh kota diminta melakukan tes dan beberapa bar diperintahkan untuk tutup. Namun, sebagian besar mal dan restoran yang berada di area tanpa kasus baru Covid-19 diizinkan tetap buka.

Penutupan tempat keramaian di area yang terdeteksi ada penularan baru Covid-19 memungkinkan tim medis serta relawan leluasa melakukan tracing dan melakukan tes dengan cara door to door (rumah ke rumah).

Pemerintah juga menggunakan data rekaman kamera lalu lintas untuk mencari pemilik kendaraan berdasarkan plat mobil mereka yang diketahui pernah parkir atau berada di dekat Pasar Xinfandi.

Bagi mereka yang dinyatakan terinfeksi Covid-19 diminta menjalankan karantina mandiri selama 14 hari. Setelah itu akan kembali menjalani tes untuk mengetahui status terbarunya.

Kerja taktis, terukur, serta efisien tersebut membuahkan hasil, setidaknya ledakan kasus baru Covid-19 tak sampai meluas ke kota besar lainnya. Data terbaru per Rabu (8/7/2020) kemarin, China hanya ada penambahan sembilan kasus baru yang berasal dari Beijing, dari jumlah tersebut angka kematiannya nol.

"Tidak ada yang memiliki sumber daya, kemampuan, tekad, dan penunjuang finansial dan tentu saja modal sosial untuk melakukan ini kecuali China," kata Leong Heo Nam, Spesialis Penyakit Menular di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, dilansir dari AFP, Kamis (9/7/2020).

Editor : Arif Budiwinarto