Iran: Perang Tak Akan Berakhir Sesuai Keinginan Trump
TEHERAN, iNews.id - Iran memperingatkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahwa perang tidak akan berakhir sesuai keinginannya jika Washington kembali melancarkan serangan militer. Teheran bahkan mengancam konflik akan meluas ke wilayah geografis yang jauh lebih besar.
Peringatan tersebut disampaikan Juru Bicara Militer Iran Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara. Dia menegaskan, keputusan Trump untuk kembali menyerang Iran justru berpotensi memicu perang yang sulit dikendalikan.
"Jika presiden AS sekali lagi memulai petualangan militer lanjutan di kawasan ini, di bawah tekanan dan hasutan dari pihak Zionis, kobaran perang niscaya akan meluas ke wilayah geografis yang jauh lebih luas," kata Akraminia dalam pernyataan di media sosial X, dikutip Minggu (31/10/2026).
Dia juga menegaskan, pada akhirnya Trump tidak akan menjadi pihak yang menentukan bagaimana dan kapan konflik berakhir.
Akraminia mengatakan militer Iran terus meningkatkan kesiapan tempur serta memantau secara saksama pergerakan pasukan AS di kawasan Timur Tengah.
Dia menyebut rekam jejak Trump yang dinilai kerap mengingkari kesepakatan menjadi salah satu alasan Iran tidak bisa mengendurkan kewaspadaan.
Pernyataan tersebut muncul ketika konflik AS-Israel melawan Iran yang pecah sejak 28 Februari 2026 belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian. Meski kedua pihak pernah menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada 17 Juni, ketegangan masih berlangsung, terutama menyangkut keamanan kawasan dan navigasi di Selat Hormuz.
Pemimpin Tertinggi Iran Ikut Ancam AS dan Israel
Peringatan Akraminia bukan satu-satunya ancaman yang disampaikan Teheran. Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei juga mengeluarkan peringatan keras kepada AS dan Israel jika kembali melancarkan serangan.
Financial Times melaporkan pada Sabtu (31/10/2026), Mojtaba memperingatkan bahwa setiap serangan baru akan dibalas Iran tanpa batasan geografis.
Dia bahkan meminta agar basis data target Iran mencakup aset keuangan dan kepentingan lain milik AS serta Israel.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa ancaman Iran tidak hanya menyasar sasaran militer. Kepentingan ekonomi dan aset kedua negara juga masuk dalam peringatan yang disampaikan pemimpin tertinggi Iran tersebut.
Menurut laporan Financial Times, ancaman ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dapat melancarkan operasi militer besar setelah pemilu sela AS pada 3 November mendatang.
26 Pangkalan Militer AS Pernah Dihantam Iran
Ancaman Iran memiliki latar belakang berupa serangkaian serangan terhadap instalasi militer AS di Timur Tengah selama konflik berlangsung.
Analisis Associated Press (AP) berdasarkan citra satelit dan wawancara dengan pejabat kawasan menemukan lebih dari 115 serangan drone dan rudal Iran atau kelompok yang bersekutu dengannya telah merusak atau menghancurkan bangunan di 26 pangkalan dan lokasi militer AS hingga Agustus 2026.
Serangan tersebut menyasar berbagai fasilitas penting, mulai dari radar peringatan dini, sistem pertahanan udara, hanggar pesawat, gudang, peralatan komunikasi, fasilitas bahan bakar hingga tempat tinggal personel militer.
Kerusakan juga dilaporkan terjadi di Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait, termasuk sedikitnya 15 hanggar pesawat.
AP menyebut serangan Iran telah mendorong AS memindahkan sejumlah aset militernya dari kawasan Teluk Persia. Kondisi ini memperlihatkan kerentanan instalasi militer AS terhadap serangan drone dan rudal.
Negara-negara Teluk Khawatir Perang Kembali Meletus
Ancaman perluasan perang Iran juga membuat negara-negara Teluk meningkatkan kewaspadaan. Mereka khawatir wilayahnya kembali menjadi sasaran pembalasan karena menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Washington Post dalam laporan 31 Oktober mengungkapkan pemerintah negara-negara Teluk tengah mengintensifkan diplomasi untuk mencegah serangan baru AS terhadap Iran.
Qatar bahkan mengirim mediator ke Teheran dalam upaya mengamankan kesepakatan sementara. Sementara itu, Oman mengusulkan pakta keamanan regional yang melibatkan Iran dan Irak.
Negara-negara Teluk menghadapi dilema. Hubungan keamanan dengan Washington membuat mereka berpotensi menjadi sasaran Iran jika perang kembali pecah. Namun, mereka juga khawatir dampak konflik akan merusak infrastruktur, perdagangan, dan pasokan energi.
Diplomasi Masih Berjalan di Tengah Ancaman Perang
Di tengah saling ancam, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Qatar dan Pakistan masih berupaya menjadi perantara untuk mengakhiri konflik.
Reuters melaporkan pada 30 Oktober, militer Pakistan menyatakan optimistis secara hati-hati terhadap upaya mediasi antara Washington dan Teheran.
Juru Bicara Militer Pakistan Letnan Jenderal Ahmed Sharif Chaudhry menyebut Kepala Staf Angkatan Darat Marsekal Lapangan Asim Munir telah dua kali mengunjungi Teheran pada Oktober untuk membahas perkembangan kawasan.
Sementara itu, Qatar dilaporkan membawa rancangan kesepakatan baru untuk mengakhiri perang. Namun, seorang pejabat senior Iran sebelumnya menyebut gagasan yang disampaikan Doha masih belum dapat diterima Teheran.
Di sisi lain, Trump masih membuka kemungkinan melanjutkan operasi militer jika kesepakatan dengan Iran tidak tercapai.
Kondisi tersebut membuat Timur Tengah berada dalam situasi penuh ketidakpastian. Iran bersiap menghadapi kemungkinan serangan baru, sementara negara-negara kawasan berupaya mencegah konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan itu kembali meluas.
Editor: Anton Suhartono