Israel Ungkap Kota 'New York Kuno' Berusia 5.000 Tahun

Nathania Riris Michico ยท Rabu, 09 Oktober 2019 - 07:05 WIB
Israel Ungkap Kota 'New York Kuno' Berusia 5.000 Tahun

Para arkeolog Israel bekerja di situs En Esur (Ein Asawir) tempat ditemukannya kota kuno berusia 5.000 tahun, dekat Harish, 6 Oktober 2019. (FOTO: AFP)

YERUSALEM, iNews.id - Kota berusia lima ribu tahun yang menjadi pernah ditinggali oleh sekitar 6.000 orang ditemukan di bagian utara Israel.

Di tempat tersebut juga terdapat jalan-jalan yang teratur, permukiman, kuil, dan benteng. Permukiman yang lebih tua, diperkirakan berumur 7.000 tahun, ditemukan di bawah kota.

Sekitar empat juta potongan ditemukan di situs, termasuk patung kecil manusia dan binatang, tembikar dan sejumlah peralatan, sebagian berasal dari Mesir.

Ahli arkeologi memandang temuan ini sebagai yang paling penting di kawasan itu dari zamannya.

Otoritas Barang Antik Israel IAA mengumumkan keberadaan permukiman itu, yang mereka sebut sebagai 'kota kosmopolitan dan terencana.'

"Bahkan dalam imajinasi terliar kami, tidak pernah percaya kami akan menemukan satu kota pada saat sekarang ini dalam sejarah," kata arkeolog IAA, Dina Shalem, seperti dilaporkan Associated Press.

Permukiman Zaman Perunggu itu ditemukan saat pembangunan jalan di dekat Kota Harish, sekitar 50 kilometer utara Tel Aviv.

Lokasi arkeologi, yang dikenal sebagai En Esur itu, terletak di tanah seluas 65 hektare dan terdiri dari bangunan umum, tempat tinggal, dan sebuah tempat ibadah yang besar.

"Di kota ini, ada sebuah permukiman yang memang direncanakan lengkap dengan seluruh jaringan jalan, lorong-lorong dan alun-alun, serta instalasi drainase dan penyimpanan," ujar Direktur Penggalian IAA, Yitzak Paz.

Dia menyebut, kota itu merupakan 'langkah pertama dalam proses urbanisasi', di wilayah Kanaan ketika itu.

Menurut para arkeolog, ada bukti bahwa suatu permukiman yang lebih kuno, yang diperkirakan berusia sekitar 7.000 tahun, ada di bawah bangunan-bangunan di En Esur itu.

Tulang binatang yang terbakar di lokasi itu membuktikan adanya kebiasaan pemberian persembahan suci. Penduduk kota kemungkinan tertarik tinggal di daerah tersebut karena adanya dua mata air, lahan yang subur dan kedekatan dengan jalur perdagangan.

Mereka bekerja sebagai petani dan berdagang dengan daerah dan budaya yang berbeda.

Para ahli arkeologi telah menggali situs tersebut selama dua setengah tahun, dengan bantuan 5.000 remaja dan sukarelawan. Permukiman itu pertama kali ditemukan ketika dilakukan penggalian pembuatan jalan baru.


Editor : Nathania Riris Michico