Israel Usir Imam Besar Masjid Al Aqsa, Palestina Murka

Anton Suhartono ยท Senin, 08 Juni 2020 - 13:40:00 WIB
Israel Usir Imam Besar Masjid Al Aqsa, Palestina Murka
Palestina mengecam Israel yang mengusir imam besar Masjid Al Aqsa (Foto: AFP)

TEPI BARAT, iNews.id - Israel mengeluarkan perintah deportasi terhadap imam besar Masjid Al Aqsa Sheikh Ekrima Sabri yang merupakan warga Palestina Keputusan Israel itu jelas dikecam Palestina.

Perintah deportasi dikeluarkan otoritas Israel belum lama ini, melarang Sheikh Sabri memasuki tempat suci ketiga bagi umat Islam itu selama 4 bulan.

"Sekali lagi, Israel bertekad menunjukkan penghinaan terhadap kebebasan beribadah dan beragama, tampak jelas dengan semakin meningkatnya pelanggaran terhadap kebebasan beribadah warga Palestina, terutama di wilayah pendudukan Yerusalem," kata anggota Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Hanan Ashrawi, dikutip dari Xinhua, Senin (8/6/2020).

Ashrawi pun mengaitkan deportasi tersebut dengan rencana Israel mencaplok Tepi Barat pada Juli.

“Israel melakukan upaya terkoordinasi dan sistematis untuk mengeksekusi rencana pencaplokan wilayah, disertai sejumlah tindakan dengan tujuan membungkam suara warga Palestina, menghapus keberadaan warga Palestina, dan mengobarkan perselisihan sektarian,” ujarnya.

Dia mendesak Israel untuk menghormati status tempat suci tersebut.

Pada April lalu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bersumpah akan mencaplok wilayah Tepi Barat lebih luas untuk dijadikan permukiman Yahudi.

Netanyahu mengaku ingin menjalankan sebagian dari rencana perdamaian Timur Tengah versi Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang disampaikan pada Januari lalu.

Trump merestui wilayah Tepi Barat untuk Israel, keputusan yang dikecam dunia karena melanggar hukum internasional.

Warga Palestina menentang keras kedaulatan Israel atas Tepi Barat, yang dicaplok Negara Yahudi dalam perang 1967. Israel menguasai wilayah Tepi Barat sejak saat itu, meski dikecam dunia internasional.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan Israel atas rencana pencaplokan tersebut. Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah Nickolay Mladenov mengatakan, pencaplokan tersebut mengancam proses perdamaian yang telah lama dirintis.

"Prospek berbahaya aneksasi oleh Israel atas beberapa wilayah pendudukan di Tepi Barat merupakan ancaman yang semakin besar. Jika langkah seperti itu diterapkan, akan menjadi pelanggaran serius terhadap hukum internasional, memberikan pukulan telak pada solusi dua negara, menutup pintu bagi pembaruan negosiasi, dan mengancam upaya untuk memajukan perdamaian regional," kata Mladenov.

Editor : Anton Suhartono