Italia Akhirnya Keluar dari Program BRI China, Turuti Kemauan AS?
“China dengan tegas menentang fitnah yang merusak kerja sama Sabuk dan Jalan, dan menentang perpecahan yang disebabkan oleh perilaku konfrontasi pengecut,” kata Juru Bicara Kemlu China, Wang Wenbin, kepada wartawan pada konferensi rutin.
Sumber lainnya di Pemerintah Italia—yang tidak mau disebutkan namanya karena sensitifnya masalah ini—mengatakan bahwa Roma bermaksud mempertahankan hubungan baik dengan Beijing, meski Italia tidak lagi menjadi bagian dari BRI.
“Negara-negara G7 lainnya memiliki hubungan yang lebih dekat dengan China dibandingkan kami, meskipun faktanya mereka tidak pernah tergabung dalam (BRI),” kata sumber itu.
Italia akan menduduki kursi kepresidenan G7 pada 2024.
Lebih dari 100 negara telah menandatangani perjanjian dengan China untuk bekerja sama dalam infrastruktur dan proyek pembangunan BRI sejak diluncurkan pada 2013. Perdana Menteri Italia saat itu, Giuseppe Conte, mengharapkan keuntungan perdagangan ketika dia ikut meneken kesepakatan itu pada 2019. Namun, program itu dinilai lebih menguntungkan perusahaan-perusahaan China, menurut data perdagangan yang ada.
Ekspor Italia ke China berjumlah 16,4 miliar euro pada tahun lalu, naik dari 13 miliar euro pada 2019. Sebaliknya, ekspor China ke Italia meningkat menjadi 57,5 miliar euro dari 31,7 miliar euro pada periode yang sama, menurut data Italia.
Sementara mitra dagang utama Italia di zona Eropa, yaitu Prancis dan Jerman, mengekspor lebih banyak barangnya ke China pada tahun lalu. Padahal, dua negara itu tidak menjadi bagian dari BRI—program Beijing yang terinspirasi oleh sejarah Jalur Sutra yang menghubungkan China dengan Dunia Barat.
Editor: Ahmad Islamy Jamil