Italia Bakal Seret Produsen Vaksin Covid Pfizer dan AstraZeneca ke Ranah Hukum
ROMA, iNews.id – Italia akan menyeret dua produsen vaksin Covid ke ranah hukum. Kedua produsen itu adalah raksasa farmasi asal AS, Pfizer Inc, dan perusahaan bioframasi multinasional AstraZeneca. Lalu apa pangkal masalahnya?
Italia merasa tak puas dengan penundaan pengiriman vaksin corona oleh kedua perusahaan itu. Pemerintah negeri pizza menilai keterlambatan itu telah melanggar kesepakatan yang dibuat sebelumnya.
“Kami tengah berupaya agar rencana program vaksin kami tidak berubah,” kata Menteri Luar Negeri Italia, Luigi Di Maio, dalam siaran televisi milik negara RAI, Minggu (24/1/2021) waktu setempat.
Pada Sabtu (23/1/2021), Perdana Menteri Italia, Giuseppe Conte mengatakan, keterlambatan pasokan vaksin oleh Pfizer dan AstraZeneca tidak dapat diterima. Dia menyebut itu sebagai pelanggaran serius terhadap kewajiban yang tertera dalam kontrak.
Epidemiolog: Vaksin Tak Langsung Bekerja Usai Disuntikkan
Conte juga menuturkan, Italia akan menggunakan semua alat hukum yang tersedia. Italia harus meninjau ulang seluruh program vaksinasi jika masalah dalam pasokan semacam itu terus berlanjut, kata seorang pejabat kesehatan senior negara itu.
“Kami mengaktifkan semua saluran sehingga Komisi Uni Eropa melakukan semua yang bisa dilakukan untuk mendorong mereka menghormati kontrak,” kata Di Maio.
Gadis 10 Tahun Tewas Usai Cekik Leher demi Konten TikTok, Bikin Geger Italia
Pekan lalu, Pfizer mengatakan akan memperlambat pasokan untuk sementara waktu bagi negara-negara Eropa guna membuat perubahan pada proses manufaktur yang akan mendorong produksi.
Silvio Berlusconi, Mantan PM Italia & Eks Bos AC Milan Dilarikan ke RS
Pada Jumat (22/1/2021), seorang pejabat tinggi mengatakan pada Reuters, AstraZeneca telah menginformasikan Uni Eropa terkait pemangkasan pasokan vaksin Covid-19 hingga 60 persen kepada organisasi antarnegara kawasan itu akibat permasalahan produksi.
Wakil Menteri Kesehatan Italia, Pierpaolo Sileri menuturkan, pemangkasan suplai yang diumumkan kedua perusahaan akan berakibat kemunduran sekitar empat minggu bagi penduduk usia 80 tahun ke atas, dan enam hingga delapan pekan bagi seluruh populasi.
“Keterlambatan ini berdampak pada seluruh Eropa dan sebagian dunia namun saya yakin kemunduran itu dapat diperbaiki lebih lanjut,” ujarnya.
Editor: Ahmad Islamy Jamil