Jepang Batalkan Sistem Anti-Misil di Tengah Potensi Ancaman Rudal Balistik Korut
TOKYO, iNews.id - Jepang telah membatalkan rencana pembelian sistem anti-rudal bernilai miliaran dolar Amerika Serikat. Langkah tersebut diambil setelah muncul desakan dari masyarakat yang mengkhawatirkan dampak lingkungan.
Jepang bekerja sama dengan Amerika Serikat dalam pembelian sistem pencegat rudal Aegis Ashore bernilai 4,2 miliar dolar AS (Rp59,6 triliun) berdurasi 30 tahun. Kesepakatan pembelian diteken pada 2017 lalu.
Rencananya, dua perangkat militer anti-rudal tersebut akan ditempatkan di dua wilayah yakni Prefektur Akita dan Yamaguchi di Pulau Honsu.
Jepang didesak Amerika Serikat membutuhkan pertahanan anti-misil setelah Korea Utara dengan pengembangan senjata nuklirnya dianggap sebagai ancaman baru di wilayah Indo-Pasifik. Akan tetapi, proyek tersebut justru memantik kontroversi karena menyedot anggaran pertahanan yang terbilang besar.
Terbesar di Dunia, Jepang Kucurkan Stimulus Covid-19 Rp31.000 Triliun
Selain itu, ada desakkan masif dari penduduk yang wilayahnya dijadikan titik penempatan perangkat anti-rudal Jepang. Mereka khawatir proyek tersebut akan membahayakan kelangsungan hidup mereka.
"Dewan Keamanan Nasional telah membahas masalah ini dan mencapai kesimpulan bahwa penempatan Aegis Ashore di Akita dan Yamaghuci akan dibatalkan," kata Menteri Pertahanan Jepang, Taro Kono, dilansir dari AFP, Kamis (25/5/2020).
Jepang Dihebohkan Benda Asing di Langit, Netizen Sebut UFO
"Saya meminta maaf sedalamnya atas hal ini," lanjutnya.
Kendati demikian, Kono menambahkan, pemerintah Jepang masih meminta supervisi dari Amerika Serikat sebagai sekutu dalam mengembangkan pertahanan anti-rudal di tengah ancaman rudal Pyongyang yang diklaim bisa mencapai daratan Jepang dalam waktu kurang dari 15 menit.
Kono meyakini sumber daya militer Jepang, terutama misil jarak jauh dan misil pencegat, yang dimiliki saat ini masih sanggup menghadang misil-misil Korut.
"Ada ancaman dari Korea Utara. Kami telah berbicara dengan Amerika Serikat tentang bagaimana meningkatkan kemampuan pertahanan rudal balistik kami atau kemampuan pertahanan rudal udara terintegrasi," ucapnya.
Editor: Arif Budiwinarto