Kisah Perempuan Saudi Memutuskan Merokok di Depan Umum, Rahasia yang Kini Terungkap

Nathania Riris Michico ยท Minggu, 16 Februari 2020 - 15:19 WIB
Kisah Perempuan Saudi Memutuskan Merokok di Depan Umum, Rahasia yang Kini Terungkap

Najla, seorang perempuan Saudi berusia 26 tahun, merokok di depan umum di sebuah kafe di Riyadh. (FOTO: FAYEZ NURELDINE / AFP)

RIYADH, iNews.id - Rima duduk di kursi di sebuah kafe kelas atas di Riyadh, melihat sekeliling dengan hati-hati, dan tak melihat siapa pun yang dia kenal. Dia lalu mengisap rokok elektroniknya dan menghembuskan asap.

"Saya merasa bahwa merokok di depan umum adalah bagian dari melaksanakan kebebasan saya yang baru dimenangkan. Saya senang bahwa sekarang saya bisa memilih," kata warga Saudi berusia 27 tahun itu, yang bekerja di sebuah perusahaan swasta, kepada AFP.

Mengenakan abaya hitam tradisional dengan bordir emas yang cocok dengan jilbab yang menutupi rambutnya, dia mengatakan laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki hak merokok di depan umum.

Seperti para feminis di Barat pada awal abad ke-20, di era perubahan sosial di Arab Saudi beberapa perempuan merokok, mengisap pipa shisha, atau vaping sebagai simbol emansipasi.

Pandangan perempuan yang merokok di depan publik menjadi jauh lebih umum dalam beberapa bulan terakhir. Ini merupakan hal yang tidak terpikirkan sebelum adanya reformasi besar-besaran di Saudi.

Penguasa de facto kerajaan, Putra Mahkota Mohammed bin Salman, meluncurkan serangkaian inovasi ekonomi dan sosial untuk memproyeksikan citra moderat, ramah bisnis, di Saudi.

Perempuan kini diizinkan mengemudi, menghadiri acara, konser, pertandingan olahraga, dan mendapatkan paspor tanpa persetujuan wali pria.

Rima, yang mulai merokok dua tahun lalu, menepis kekhawatiran tentang dampak berbahaya tembakau. Dia justru khawatir keluarganya akan mengetahui hal itu.

Namun, dia mengaku siap untuk melawan keluarganya.

"Saya tidak akan memberi tahu mereka bahwa ini adalah tentang kebebasan kepribadian saya, karena mereka tidak akan mengerti bahwa perempuan bebas untuk merokok seperti pria," kata Rima,

Najla (26), yang seperti Rima meminta menggunakan nama samaran, mengatakan bahwa meskipun ada perubahan sosial yang cepat, standar ganda masih ada. Perempuan yang merokok, kata dia, masih dianggap sebagai skandal dan aib.

Satu-satunya perempuan yang merokok di antara beberapa meja di kafe, dia mengatakan dirinya bermaksud "menantang masyarakat" dan mengabaikan penampilan sesekali.

"Hak saya akan sepenuhnya dihormati ketika keluarga saya menerima saya sebagai perokok," katanya.

Dia menyebut, seorang teman dikirim ke klinik kecanduan ketika orangtuanya mengetahui tentang kebiasaan merokok.

Najla mulai merokok ketika masih menjadi siswa sekolah, dan seperti dia, hingga 65 persen perempuan SMA Saudi merokok secara diam-diam, menurut sebuah studi pada 2015 oleh fakultas kedokteran di Universitas King Abdulaziz, yang dikutip oleh Arab News.

Terlepas dari keterbatasan, di negara di mana hingga beberapa tahun lalu polisi agama akan mengejar dan memukul perempuan karena memakai cat kuku atau sehelai rambut keluar dari jilbab, perubahannya masih belum pasti.

"Sebagian besar klien perempuan kami memesan shisha. Itu adalah sesuatu yang benar-benar tak terbayangkan tiga bulan lalu," kata seorang pelayan Lebanon kepada AFP, di sebuah kafe kelas atas di utara Riyadh.

Heba, perokok berusia 36 tahun yang duduk di sebuah meja di dekatnya, menggambarkan kondisi harus tumbuh di negara tertutup di mana semuanya dilarang bagi perempuan.

"Saya tidak pernah membayangkan akan bisa merokok shisha di depan umum di samping pria," katanya kepada AFP.

"Sekarang, semuanya diizinkan. Para perempuan keluar tanpa jilbab, tanpa abaya, dan mereka bahkan merokok di depan umum."

Editor : Nathania Riris Michico