Kota di China Ini Larang Warganya Konsumsi Anjing dan Kucing akibat Wabah Corona

Anton Suhartono ยท Kamis, 02 April 2020 - 13:38 WIB
Kota di China Ini Larang Warganya Konsumsi Anjing dan Kucing akibat Wabah Corona

Pemerintah Kota Shenzhen melarang warganya memakan anjing dan kucing (Foto: AFP)

SHENZHEN, iNews.id - Para ahli menyebut bahwa virus corona dibawa dari hewan seperti kelelawar dan trenggiling. Namun tak menutup kemungkinan ada pula hewan lain yang menjadi sumber virus mematikan bagi manusia.

Oleh karena itu, kota di China, Shenzhen, melarang warganya mengonsumsi  hewan anjing dan kucing. Langkah ini juga untuk mendukung kampanye yang digulirkan pemerintah pusat yakni menghentikan perdagangan dan konsumsi satwa liar terkait wabah Covid-19.

Kasus virus corona diyakini bermula dari pasar seafood dan satwa liar di Kota Wuhan dan hingga kini sudah mejangkiti 935.000 lebih orang di seluruh dunia, sebanyak 47.000 di antaranya meninggal.

Pihak berwenang Shenzhen menyatakan larangan mengonsumsi anjing dan kucing mulai berlaku pada 1 Mei 2020.

"Anjing dan kucing sebagai hewan peliharaan telah menjalin hubungan jauh lebih dekat dengan manusia daripada satwa lain, dan melarang konsumsi anjing dan kucing serta hewan peliharaan lain adalah praktik umum di negara-negara maju dan di Hong Kong serta Taiwan," kata pemerintah kota, dalam pernyataan, dikutip dari Reuters,  Kamis (2/4/2020).

Pemerintah provinsi dan kota di seluruh China sudah menerapkan larangan perdagangan dan konsumsi satwa liar menyusul keputusan pusat, namun Shenzhen termasuk kota terdepan yang secara eksplisit memperluas larangan itu kepada anjing dan kucing.

Pejabat Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Liu Jianping, mengatakan warga tetap bisa mengonsumsi daging unggas, hewan ternak, dan seafood.

"Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa satwa liar lebih bergizi daripada unggas dan ternak," kata Liu.

Shenzhen pada Februari mengusulkan pelarangan konsumsi penyu dan katak, keduanya hidangan umum di China bagian selatan. Tak pelak pelarangan itu memicu kontroversi. Pemerintah tak dapat menahan kuatnya tekanan dari warga sehingga mengklarifikasi bahwa kedua hewan itu boleh dimakan.

Editor : Anton Suhartono