KTT G20 Hasilkan Deklarasi Bali yang Kecam Perang di Ukraina, Reaksi Rusia Mengejutkan
MOSKOW, iNews.id - Rusia memuji deklarasi para pemimpin G20 sebagai 'naskah seimbang' yang sulit dipengaruhi oleh para diplomatnya. Bahkan Kremlin menerbitkan terjemahan deklarasi berbahasa Rusia yang lengkap dan akurat di situs webnya.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov menyebut, pada naskah akhir tersebut merupakan sebuah pencapaian bagi Rusia.
“Perbedaan pendekatan dan perbedaan sudut pandang dicatat dan direkam dalam deklarasi akhir. Tentu saja, para ahli kami, kementerian luar negeri, dan sherpa kami berupaya keras untuk memastikan bahwa teks yang seimbang itu lahir,” katanya kepada wartawan, Rabu (16/11/2022).
Langkah Kremlin memposting terjemahan Deklarasi Bali berbahasa Rusia dianggap sebagai sebuah langkah mengejutkan. Hal ini mengingat kata-kata dalam deklarasi yang sangat kritis terhadap Moskow.
Sebelumnya, dalam deklarasi Bali KTT G20, menyebutkan ada penderitaan manusia yang luar biasa yang disebabkan oleh perang di Ukraina.
Invasi Rusia ke Ukraina mendominasi KTT G20 di Bali, Indonesia. Muncul perdebatan alot atas kata-kata dari dokumen yang berlangsung hingga jam-jam.
"Sebagian besar anggota mengutuk keras perang di Ukraina dan menekankan hal itu menyebabkan penderitaan manusia yang luar biasa dan memperburuk kerapuhan yang ada dalam ekonomi global - menghambat pertumbuhan, meningkatkan inflasi. , mengganggu rantai pasokan, meningkatkan kerawanan energi dan pangan, dan meningkatkan risiko stabilitas keuangan," bunyi poin ketiga dari 52 paragraf dalam Deklarasi Bali.
Dokumen itu juga mencatat ada 'pandangan lain dan penilaian yang berbeda tentang situasi dan mengatakan G20 bukan forum untuk menyelesaikan masalah keamanan.
Naskah Deklarasi Bali menggunakan kata 'perang', merujuk pada agresi oleh Federasi Rusia terhadap Ukraina. Naskah juga menyebutkan tuntutan dari sebagian besar G20 untuk penarikan penuh dan tanpa syarat Moskow dari wilayah Ukraina.
Semenatara itu, media Rusia dilarang menggunakan istilah 'perang' atau 'invasi' untuk menggambarkan apa yang disebut Moskow sebagai 'operasi militer khusus' di Ukraina.
Editor: Umaya Khusniah