Langka, Pemimpin Spiritual Iran Ayatollah Ali Khamenei Pimpin Langsung Salat Jumat

Anton Suhartono ยท Jumat, 17 Januari 2020 - 13:23 WIB
Langka, Pemimpin Spiritual Iran Ayatollah Ali Khamenei Pimpin Langsung Salat Jumat

Ayatollah Ali Khamenei (Foto: AFP)

TEHERAN, iNews.id - Pemimpin spirtual Iran Ayatollah Ali Khamenei akan memimpin langsung Salat Jumat di Teheran, (17/1/2020). Ini merupakan momen langka, terakhir Khamenei menjadi imam Salat Jumat pada Februari 2012.

Keputusan untuk menjadi imam tak lepas dari beban yang dihadapi negara terkait serangkaian peristiwa, mulai dari krisis dinaikkannya harga bahan bakar yang memicu gelombang unjuk rasa, meningkatnya eskalasi dengan Amerika Serikat (AS) ditandai dengan pembunuhan jenderal Qasem Soleimani, hingga jatuhnya pesawat Ukraina yang menewaskan 176 orang.

Baca Juga: Iran Diterpa Banyak Musibah, Presiden Iran Rouhani Serukan Persatuan Nasional

Khamenei memimpin Salat Jumat pada 2012 juga karena saat itu Iran menghadapi masalah besar terkait nuklir, di samping memperingati 33 tahun revolusi Islam.

Setelah mengakui bahwa jatuhnya pesawat Ukraine International Airlines di Teheran, akibat tembakan rudal yang tak disengaja, Iran mulai melunak.

Presiden Hassan Rouhani menekankan dalam pidato yang disiarkan stasiun televisi bahwa Iran siap bekerja untuk mencegah konfrontasi militer atau perang dan membuka peluang dialog dengan dunia internasional.

Baca Juga: Bendera Merah Dikibarkan di Masjid Iran, Simbol Balas Dendam atas Tewasnya Soleimani

Permusuhan Iran dan AS meningkat sejak Presiden Donald Trump menarik AS keluar dari perjanjian nuklir tahun 2015 pada Mei 2018 dan menjatuhkan sanksi baru.

Sementara itu di Iran, dukungan masyarakat terhadap pemerintah pascaterbunuhnya Soleimani berubah menjadi hujatan setelah mengetahui pesawat Ukraina jatuh akibat tembakan rudal. Lebih dari 80 korban tewas dalam insiden itu merupakan warga Iran.

Warga Iran berunjuk rasa mengecam penembakan yang diwarnai kericuhan.

Presiden Rouhani secara tersirat mengakui pemerintahannya mengalami krisis kepercayaan, namun dia menyerukan persatuan nasional.


Editor : Anton Suhartono