Melawan saat Diingatkan soal Masker, Pria di Filipina Ditembak Mati Polisi

Anton Suhartono ยท Selasa, 07 April 2020 - 13:56 WIB
Melawan saat Diingatkan soal Masker, Pria di Filipina Ditembak Mati Polisi

Seorang pria di Filipina ditembak mati polisi karena melawan saat diingatkan soal penggunaan masker (Foto: AFP)

MANILA, iNews.id - Seorang pria tak mengenakan masker dan melanggar aturan lockdown ditembak mati polisi di Kota Nasipit, Povinsi Agusan del Norte, Filipina, pada Kamis pekan lalu.

Peristiwa ini terjadi hanya selang sehari setelah Presiden Rodrigo Duterte memerintahkan polisi dan tentara untuk menembak mati para perusuh yang menentang pemberlakuan lockdown terkait wabah virus corona.

Menurut kepolisian setepat, seperti dikutip dari Aljazeera, Selasa (7/4/2020), korban merupakan pria 63 tahun yang tak disebutkan identitasnya. Dia tak mengindahkan perintah petugas kesehatan dan polisi di checkpoint terkait penggunaan masker dan tidak keluar dari wilayahnya.

Pria yang diduga dalam kondisi mabuk itu dihentikan petugas kesehatan setempat, namun malah melawan dengan mengacungkan sabit.

“Awalnya, pria itu diberi peringatan oleh petugas kesehata karena dia tak mengenakan masker, tapi dia malah marah, melontarkan kata-kata provokatif dan akan menyerang petigas dengan sabit,” demikin isi laporan kepolisian.

Melihat tingkah lakunya yang semakin berbahaya, petugas melepaskan tembakan peringatan dengan tujuan agar dia berhenti mengancam. Namun pria itu semakin menjadi-jadi dan menyerang hingga akhirnya ditembak mati.

Ini merupakan kejadian pertama di Filipina seorang warga ditembak mati terkait pelanggaran lockdown.

Dalam pidato di televisi pekan lalu, Duterte mengatakan bahwa kondisi wabah Covid-19 di Filipina semakin serius.

“Jadi sekali lagi saya beri tahu Anda betapa seriusnya masalah ini dan Anda harus mendengarkan. Perintah saya kepada polisi dan militer,  jika ada masalah, ada orang yang melawan dan hidup Anda dalam bahaya, tembak mati mereka,” kata Duterte, saat itu.

Organisasi HAM Amnesty International mengutuk pernyataan tersebut dan menyebutnya sangat mengkhawatirkan.

Editor : Anton Suhartono