Mengenal Gaya Hidup Hikikomori di Jepang, Apa Itu?
Menurut Tamaki Saito, orang yang melakukan hikikomori biasanya mereka yang merasa malu dan mendapat tekanan mendalam dari orang-orang di sekitarnya.
Saito mengatakan jika mereka dilumpuhkan oleh ketakutan sosial yang mendalam. "Mereka tersiksa dalam pikiran," kata Saito, seperti dikutip dari BBC.
Lebih lanjut Saito menjelaskan jika para pelaku hikikomori ini ingin keluar dan menjalin hubungan atau berteman dengan orang lain. Namun, mereka tidak mampu melakukannya.
Pelaku hikikomori ini mayoritas adalah remaja laki-laki berusia 18-35 tahun.
Salah satu alasan terjadinya hikikomori adalah kehidupan sosial yang penuh kedisiplinan dan tekanan. Takahiro Kato, seorang profesor neuropsychiatrist dari Universitas Kyushu, menjelaskan bahwa norma sosial yang kaku, harapan yang tinggi dari orang tua, dan budaya malu membuat masyarakat Jepang menjadi tempat berkembang biak yang subur bagi perasaan tidak mampu.
"Kami berpikir bahwa ada aspek psikologis pada kondisi ini— yang berasal dari depresi dan kecemasan—tetapi juga ada budaya dan pengaruh sosial pada prakteknya," terang Kato seperti dilansir oleh BBC.