Menhan AS Hegseth Yakin Pemakzulannya Gagal, Singgung Trump 2 Kali Lolos
WASHINGTON, iNews.id - Menteri Pertahanan (Menhan) Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth menantang para politisi yang berupaya memakzulkannya di Kongres. Dia yakin upaya tersebut akan gagal, seperti dua kali pemakzulan terhadap Presiden Donald Trump yang tidak berujung pencopotan dari jabatannya.
Hegseth bahkan menyebut upaya pemakzulan terhadap dirinya sebagai aksi politik untuk menghancurkan reputasi pribadi. Dia menegaskan tidak akan mundur meskipun menghadapi tekanan dari Partai Demokrat maupun sesama politisi Partai Republik.
"Anda lihat, mereka menyerang saya, mereka menyerang kita, karena kita efektif. Itu tidak akan berhasil. Kami tidak akan mundur," kata Hegseth, dalam pesan video di media sosial X, Sabtu (7/11/2026).
Dia kemudian menyinggung pengalaman Trump yang dua kali dimakzulkan DPR AS, namun tetap bertahan hingga menyelesaikan masa jabatan pertamanya dan kembali terpilih sebagai presiden.
"Ini semua tentang politik penghancuran pribadi. Tidak berhasil melawan Presiden Trump, dan itu tidak akan berhasil terhadap saya. Anda boleh yakin akan hal itu," ujarnya.
Pernyataan Hegseth tersebut disampaikan di tengah meningkatnya tekanan politik setelah Partai Republik kehilangan kendali Kongres dalam pemilu paruh waktu. Kekalahan itu turut dikaitkan dengan kebijakan perang Iran yang dijalankan Pentagon di bawah kepemimpinannya.
Trump Bela Hegseth, Demokrat Siapkan Penyelidikan
Di tengah desakan agar Hegseth dicopot, Trump justru memberikan dukungan kepada kepala Pentagon tersebut. Trump menepis kemungkinan memecat Hegseth dan menilai kinerjanya masih baik.
"Saya kira dia melakukan pekerjaan sangat baik," kata Trump, sebagaimana dikutip Reuters.
Namun, dukungan Trump tidak menghentikan tekanan dari Kongres. Pemimpin Partai Demokrat di DPR AS, Hakeem Jeffries, bahkan mempertanyakan alasan Hegseth masih dipertahankan di Pentagon.
"Mengapa Pete Hegseth masih ada?" tulis Jeffries melalui media sosial X.
Demokrat yang berhasil merebut kendali Kongres berencana menyelidiki kepemimpinan Hegseth di Departemen Pertahanan. Penyelidikan itu antara lain akan menyoroti keputusan pemecatan sejumlah pejabat tinggi militer, termasuk pimpinan senior Pentagon.
Wakil Presiden JD Vance sebelumnya juga mengaitkan kekalahan Partai Republik dengan perang Iran. Konflik berkepanjangan tersebut menjadi salah satu persoalan yang memicu kekecewaan pemilih terhadap pemerintahan Trump.
Sesama Partai Republik Ikut Desak Pemakzulan
Tekanan terhadap Hegseth tidak hanya datang dari Demokrat. Anggota DPR AS dari Partai Republik, Thomas Massie, berencana mengajukan kembali pasal-pasal pemakzulan terhadap kepala Pentagon tersebut.
Massie sebelumnya telah mengajukan resolusi pemakzulan pada September 2026. Dia menuduh Hegseth menyalahgunakan jabatan karena memerintahkan operasi militer terhadap Iran tanpa persetujuan Kongres.
Dalam pengajuan tersebut, Massie juga menyoroti tindakan militer AS terhadap kapal-kapal yang dicurigai terlibat penyelundupan narkoba.
Meski demikian, pemakzulan tidak otomatis membuat Hegseth kehilangan jabatan. DPR harus menyetujui pasal-pasal pemakzulan, kemudian Senat menggelar persidangan untuk menentukan apakah pejabat tersebut harus dicopot.
Editor: Anton Suhartono