Menkes: Vaksin Covid-19 Sputnik V Diproduksi Massal dalam 2 Minggu

Ahmad Islamy Jamil ยท Rabu, 12 Agustus 2020 - 17:27 WIB
Menkes: Vaksin Covid-19 Sputnik V Diproduksi Massal dalam 2 Minggu

Ilustrasi vaksin Covid-19 yang sedang dikembangkan di laboratorium. (Foto: AFP)

MOSKOW, iNews.id – Menteri Kesehatan Rusia, Mikhail Murashko, memastikan vaksinasi massal Covid-19 akan diadakan di Rusia dalam waktu dekat. Kendati demikian, dia tidak menyebutkan secara perinci jumlah dosis vaksin yang bakal diproduksi untuk batch pertama itu.

“Dalam dua minggu, gelombang pertama vaksin akan dirilis,” kata Murashko pada konferensi pers di Moskow, seperti dikutip NDTV, Rabu (12/8/2020).

Dia menuturkan, peserta yang hendak mengikuti vaksinasi massal tersebut bersifat sukarela. Selain memenuhi kebutuhan bagi masyarakat Rusia sebagai prioritas, vaksin itu menurutnya juga dapat diekspor ke luar negeri.

“Vaksinasi itu (bersifat) sukarela kok. Beberapa dokter sudah memiliki kekebalan terhadap virus corona, ada sekitar 20 persen. Jika (mereka) merasa tidak perlu vaksinasi, silakan saja. Itu mereka yang memutuskan,” kata Murashko.

Dia pun merasa geram dengan pernyataan sejumlah pihak yang menuding vaksin Covid-19 buatan negaranya tak aman digunakan. Menurut Murashko, tudingan semacam itu sama sekali tidak berdasar dan dipicu oleh persaingan saja.

Rusia mengklaim telah mengembangkan vaksin pertama yang menawarkan kekebalan berkelanjutan terhadap Covid-19. Kabar tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin, kemarin.

“Saya tahu bahwa (vaksin) itu cukup efektif, membentuk imunitas yang kuat dan saya tegaskan kembali, (vaksin) itu telah melewati semua pemeriksaan yang diperlukan,” kata Putin, Selasa (11/8/2020).

Keputusan Moskow untuk memberikan persetujuan pada vaksin yang diberi nama Sputnik V itu menimbulkan kekhawatiran di kalangan para pakar. Banyak yang menduga Rusia hanya lebih mementingkan gengsi negara daripada standar ilmu pengetahuan dan keamanan.

Menteri Kesehatan Amerika Serikat, Alex Azar mengatakan, masalah terpenting dalam penyediaan vaksin virus corona bukan soal siapa yang paling cepat menemukannya, melainkan keampuhan dan keamanannya. Sementara, Menteri Kesehatan Jerman, Jens Spahn, juga menyatakan pesimismenya atas vaksin yang diproduksi Rusia karena tak mengikuti tahap-tahap uji klinis pada manusia secara lengkap.

Editor : Ahmad Islamy Jamil