Menlu Retno Marsudi: Indo-Pasifik Jangan Sampai Jadi Medan Perang!
“Bayangkan EAS sebagai sebuah kereta, dan komitmen kita terhadap Traktat Persahabatan dan Kerja Sama (TAC) dan Bali Principles sebagai rel kereta. Kita harus memastikan jalan kita berpapasan, bukan saling menghalangi,” ujarnya.
Dia menegaskan semua pihak harus bekerja sama untuk menjembatani, menanamkan kepercayaan, dan membangun arsitektur kawasan yang inklusif.
Perbedaan yang ada tidak boleh menjadi pemisah, melainkan memperkaya upaya kolektif dan menjadi kekuatan.
Pada kesempatan itu, Retno mengutip falsafah ‘Bhinneka Tunggal Ika’ yang mengandung makna dari perbedaan bisa tercipta harmoni untuk mewujudkan agenda bersama.
“Kita bersama-sama di kereta EAS, dan setiap orang dipersilakan naik,” tuturnya.
Sementara itu, dalam pernyataan nasional Indonesia, Retno menggarisbawahi dua hal. Pertama, apresiasi atas dukungan dan penghormatan terhadap sentralitas ASEAN. ASEAN yang bersatu (ASEAN yang matters) akan membawa manfaat tidak hanya untuk kawasan, tapi juga dunia.