Pakar AS Sebut Pengembangan Vaksin Covid-19 China dan Rusia Bermasalah

Arif Budiwinarto ยท Sabtu, 01 Agustus 2020 - 16:27 WIB
Pakar AS Sebut Pengembangan Vaksin Covid-19 China dan Rusia Bermasalah

Ilustrasi vaksin Covid-19 (foto: ist)

WASHINGTON, iNews.id - China dan Rusia mengklaim jadi yang terdepan dalam pengembangan vaksin Covid-19. Meskipun demikian, Amerika Serikat sebagai negara paling terdampak pandemi diyakini tidak akan menggunakan vaksin produk dua negara tersebut.

Amerika Serikat mencatatkan kasus Covid-19 tertinggi di dunia, berdasarkan data worldmeter per hari Sabtu (1/8/2020) terdapat lebih dari 4,6 juta kasus infeksi dengan 155.660 angka kematian.

Jumlah tersebut jauh melampaui China dimana virus tersebut pertama kali muncul. Di awal bulan Agustus ini, China mencatatkan jumlah infeksi Covid-19 sebanyak 84.337 dan 4.634 kematian. Sedangkan di Rusia terdapat 845.443 kasus infeksi dengan jumlah kematian sebanyak 14.058.

Sejak ditetapkan sebagai pandemi pada Januari oleh WHO, Covid-19 telah menginfeksi lebih dari 17 juta populasi bumi dan menewaskan setidaknya 679.000 orang. Tujuh bulan berlalu, pandemi belum memperlihatkan tren menurun. Bahkan PBB memprediksi dampak pandemi akan berlangsung hingga bertahun-tahun.

Vaksin menjadi harapan terakhir menyudahi pandemi Covid-19. Sejauh ini, terdapat ratusan vaksin di seluruh dunia yang tengah memasuki tahap uji coba pada manusia. China dan Rusia merupakan dua negara yang mengklaim pengembangan vaksin Covid-19 mereka dapat rampung dalam waktu tak lama lagi.

Pada Kamis (30/7/2020) kemarin, Rusia bahkan menyebut vaksin Covid-19 akan tersedia pada pekan kedua Agustus ini. Dengan peruntukan prioritas bagi para tenaga medis yang berjuang di garda terdepan penanganan Covid-19. Sedangkan China menyebut vaksin Covid-19 yang dikembangkan beberapa perusahaan biomedis, termasuk Sinovac, akan tersedia paling cepat sebelum tahun 2020 usai.

Meskipun Rusia dan China berada di urutan terdepan dalam persaingan pengembangan vaksin Covid-19, Amerika Serikat diyakini tidak akan mau menggunakan vaksin buatan dua negara tersebut. Alasannya, sistem dan prosedur pengembangan vaksin Rusia dan China dianggap masih jauh dari yang ditetapkan oleh AS.

"Saya berharap China dan Rusia mengujui vaksin dengan sebenar-benarnya sebelum mereka mengedarkan vaksin tersebut bagi banyak orang," kata ahli penyakit menular AS, dr Anthony Fauci, dalam forum dengar pendapat Kongres AS, dikutip dari AFP, Sabtu (1/8/2020).

Dr Fauci masih belum yakin proyek pengembangan vaksin China dan Rusia cukup aman, sebab dia menilai kedua negara cenderung mengabaikan sejumlah aspek guna mempercepat perilisan vaksin.

"Klaim memiliki vaksin siap didistribusikan sebelum dites saya pikir sangat problematik," lanjutnya.

Amerika Serikat mengklaim memiliki 150 calon vaksin yang tengah diuji klinis. Washington juga mengucurkan dana hingga 1 triliun dolar AS bagi dua perusahaan raksasa Sanofi dan GSK dalam pengembangan vaksin Covid-19 di bawah proyek "Operation Warp Speed".

Editor : Arif Budiwinarto