Pakar Militer Sebut Tentara Bayaran Asing Kini Pilih Perang untuk Rusia ketimbang Ukraina
LONDON, iNews.id - Pakar militer Rusia menyebut tentara bayaran asing kini lebih tertarik berperang untuk Vladimir Putin ketimbang membela Vladimir Zelensky. Ratusan relawan atau tentara bayaran dari banyak negara, seperti Polandia, Amerika Serikat (AS), Inggris, ikut berperang melawan Rusia sejak Putin menginvasi Ukraina pada 24 Februari 2022.
Dua pakar militer Rusia Alexander Sladkov dan Anatoly Matviychuk mengatakan kepada media pro-pemerintah, Moskovskij Komsomolets, jumlah tentara bayaran asing yang ingin membela Rusia semakin banyak.
“Semakin banyak orang asing datang untuk ikut serta. Bukan tentara bayaran spesialis, tapi orang dan pria biasa. Kita akan mampu melakukan perubahan yang besar, akan ada lebih banyak relawan untuk Rusia dan pembenci Anglo-Saxon akan lebih aktif," kata Sladkov, seperti dilaporkan kembali Daily Star, Selasa (31/1/2023).
Hal senada disampaikan Matviychuk. Dia mendapat informasi bahwa relawan-relawan dari Serbia telah tiba.
“Berapa jumlahnya, saya tidak tahu, karena tidak ada yang akan mengungkapnya. Secara umum, Serbia telah berperang di pihak kami sejak 2014, bahkan ada unit penembak runduk," ujarnya.
Informasi lain yang didapatnya, tentara reguler Afghanistan yang pernah dilatih Amerika Serikat (AS) melawan Taliban dan hijrah ke Eropa dan kini bergabung ke beberapa perusahaan militer swasta Rusia, termasuk Wagner Group.
Menurut pakar, ada beberapa motivasi tentara itu mau berjuang untuk Rusia, salah satunya adalah jaminan mendapat kewarganegaraan.
“Sekitar 3.500 orang asing berperang di pihak Ukraina. Tapi begitu Ukraina menderita kekalahan besar di Donbass, dekat Artemivsk, Vuhledar, di Soledar, mereka secara besar-besaran mulai memutus kontrak dan pergi," tutur Matviychuk.
Editor: Anton Suhartono