Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Junta Militer Myanmar Gelar Pemilu Kontroversial, Perang Saudara Masih Berkecamuk
Advertisement . Scroll to see content

Partai Pro-Militer Unggul dalam Pemilu Myanmar Tahap Pertama, Partisipasi Pemilih Rendah

Sabtu, 03 Januari 2026 - 12:31:00 WIB
Partai Pro-Militer Unggul dalam Pemilu Myanmar Tahap Pertama, Partisipasi Pemilih Rendah
Partai Persatuan Solidaritas dan Pembangunan (USDP) yang didukung militer Myanmar memimpin fase pertama pemilu yang penuh kontroversi. (Foto: AP)
Advertisement . Scroll to see content

Belum ada tanggal yang ditetapkan untuk hasil akhir pemilihan, yang telah dikritik oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), beberapa negara Barat, dan kelompok hak asasi manusia karena partai-partai politik anti-junta tidak ikut serta dan mengkritik pemilu adalah ilegal.

Panel pemilihan belum mengungkapkan jumlah total daerah pemilihan yang memberikan suara pada fase pertama, melainkan memilih untuk merilis hasil parsial berdasarkan daerah pemilihan

Pada hari Rabu, junta mengatakan 52 persen pemilih, atau lebih dari setengah dari mereka yang telah memenuhi syarat, telah memberikan suara pada fase pertama.

Namun, menurut data Yayasan Internasional untuk Sistem Pemilu (IFES), organisasi nirlaba yang berbasis di Amerika Serikat (AS), angka tersebut masih jauh di bawah angka partisipasi sekitar 70 persen pada pemilu tahun 2020 dan 2015.

Dua putaran pemungutan suara lagi yang dijadwalkan pada 11 Januari dan 25 Januari akan mencakup 265 dari 330 kota di Myanmar, di beberapa di antaranya tidak sepenuhnya dikuasai oleh junta militer.

Aung San Suu Kyi, pemenang hadiah Nobel Perdamaian yang digulingkan oleh militer beberapa bulan setelah memenangkan pemilu terakhir dengan kemenangan telak pada tahun 2020, masih ditahan.

Sementara, Liga Nasional untuk Demokrasi yang dipimpinnya telah dibubarkan.

Para analis mengatakan upaya junta militer untuk membentuk pemerintahan yang stabil di tengah perang penuh dengan risiko, dan pengakuan asing yang luas juga tidak mungkin terjadi bagi pemerintahan yang dikendalikan militer dengan tampilan sipil.

Editor: Aditya Pratama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut