Partai Pro-Militer Unggul dalam Pemilu Myanmar Tahap Pertama, Partisipasi Pemilih Rendah
Belum ada tanggal yang ditetapkan untuk hasil akhir pemilihan, yang telah dikritik oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), beberapa negara Barat, dan kelompok hak asasi manusia karena partai-partai politik anti-junta tidak ikut serta dan mengkritik pemilu adalah ilegal.
Panel pemilihan belum mengungkapkan jumlah total daerah pemilihan yang memberikan suara pada fase pertama, melainkan memilih untuk merilis hasil parsial berdasarkan daerah pemilihan
Pada hari Rabu, junta mengatakan 52 persen pemilih, atau lebih dari setengah dari mereka yang telah memenuhi syarat, telah memberikan suara pada fase pertama.
Namun, menurut data Yayasan Internasional untuk Sistem Pemilu (IFES), organisasi nirlaba yang berbasis di Amerika Serikat (AS), angka tersebut masih jauh di bawah angka partisipasi sekitar 70 persen pada pemilu tahun 2020 dan 2015.
Dua putaran pemungutan suara lagi yang dijadwalkan pada 11 Januari dan 25 Januari akan mencakup 265 dari 330 kota di Myanmar, di beberapa di antaranya tidak sepenuhnya dikuasai oleh junta militer.
Aung San Suu Kyi, pemenang hadiah Nobel Perdamaian yang digulingkan oleh militer beberapa bulan setelah memenangkan pemilu terakhir dengan kemenangan telak pada tahun 2020, masih ditahan.
Sementara, Liga Nasional untuk Demokrasi yang dipimpinnya telah dibubarkan.
Para analis mengatakan upaya junta militer untuk membentuk pemerintahan yang stabil di tengah perang penuh dengan risiko, dan pengakuan asing yang luas juga tidak mungkin terjadi bagi pemerintahan yang dikendalikan militer dengan tampilan sipil.
Editor: Aditya Pratama