PBB Prihatin, Israel Perburuk Penanganan Covid-19 di Palestina

Antara ยท Rabu, 22 Juli 2020 - 14:19 WIB
PBB Prihatin, Israel Perburuk Penanganan Covid-19 di Palestina

Palestina putus hubungan koordinasi keamanan dengan Israel menyusul rencana Tel Aviv mencaplok wilayah berpenghuni di Tepi Barat. (Foto: AFP)

NEW YORK, iNews.id – Rencana Israel menganeksasi wilayah Tepi Barat Palestina telah merugikan kedua pihak dalam upaya menahan pandemi Covid-19. Kondisi itu pun mendapat sorotan dari komunitas internasional, termasuk PBB.

“Sayangnya, situasi di lapangan dengan cepat dipengaruhi oleh peningkatan tajam kasus Covid-19 di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, serta di Israel,” ujar utusan khusus PBB untuk perdamaian Timur Tengah, Nickolay Mladenov, kepada Dewan Keamanan (DK) dikutip Anadolu, Rabu (22/7/2020).

“Saya juga prihatin bahwa kita telah mundur jauh dari koordinasi yang terjalin pada awal tahun, saat gelombang pertama virus menyerang. Situasi ini bisa berakibat serius pada kemampuan untuk mengendalikan penyebaran virus dan dampaknya pada kehidupan masyarakat,” ujar Mladenov menambahkan.

Di tengah keadaan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, Mladenov mengatakan, PBB telah menawarkan diri untuk meningkatkan peran sebagai perantara antara kedua pihak untuk membantu merespons virus corona. PBB juga berusaha membantu memberikan rujukan bagi pasien dari Jalur Gaza yang terkepung.

“Namun demikian, ada batasan untuk apa yang dapat dilakukan oleh PBB dan organisasi lain. Setiap peningkatan tanggung jawab dalam konteks ini harus dibatasi dan diberi tenggat waktu dan tidak dirancang untuk menggantikan peran dan tanggung jawab Otoritas Palestina atau pemerintah Israel,” kata dia.

Pernyataan Mladenov disampaikan hanya beberapa jam setelah pasukan Israel pada Selasa (21/7/2020) menghancurkan sebuah bangunan yang digunakan sebagai pusat karantina bagi orang-orang yang diduga tertular virus corona di kota Hebron, Tepi Barat. Penduduk setempat mengatakan, Israel mengklaim bangunan itu tidak berizin sehingga harus diratakan.

“Pusat (karantina) itu sedang dipersiapkan selama tiga bulan terakhir. Pendudukan Israel sepertinya berusaha menyebarkan virus di kota,” kata pemilik bangunan, Raed Meswada, kepada Anadolu.

Meswada mengatakan pembongkaran pusat karantina itu adalah bukti bahwa pendudukan Israel tidak peduli dengan wabah Covid-19. Padahal virus itu menyerang manusia tanpa membedakan antara Palestina dan Israel.

Kementerian Kesehatan Palestina pada Selasa kemarin mengonfirmasi dua kematian dan 400 kasus Covid-19 di Tepi Barat selama 24 jam terakhir, termasuk 119 kasus di Hebron. Hitungan di Tepi Barat dan Jalur Gaza sekarang mencapai 10.923 kasus, termasuk 67 kematian.

Sementara, otoritas kesehatan Israel pada Senin (20/7/2020) melaporkan 951 kasus Covid-19 dalam 24 jam terakhir, sehingga totalnya menjadi 50.714, termasuk 409 kematian.

Editor : Ahmad Islamy Jamil