Pengungsi Rohingya Menolak, Bangladesh Batalkan Pemulangan ke Myanmar

Nathania Riris Michico ยท Jumat, 16 November 2018 - 09:41:00 WIB
Pengungsi Rohingya Menolak, Bangladesh Batalkan Pemulangan ke Myanmar
Pengungsi Rohingya menunggu untuk menerima bantuan makanan seperti beras, air, dan minyak goreng di pusat bantuan di kamp pengungsi Kutupalong di Cox's Bazar. (Foto: AFP)

COXS BAZAR, iNews.id - Kepala komisi pengungsi Bangladesh mengatakan rencana memulai pemulangan 700 ribu Muslim Rohingya ke Myanmar pada Kamis (15/11/2018) dibatalkan. Pembatalan itu terjadi karena para pejabat tidak dapat menemukan pengungsi yang ingin kembali.

"Para pengungsi tidak mau kembali sekarang," ujar Komisaris Pengungsi Abul Kalam, seperti dilaporkan AP, Jumat (16/11/2018).

Dia mengatakan, para pejabat tidak bisa memaksa mereka untuk pergi. Namun mereka akan terus mencoba memotivasi sehingga proses pemulangan bisa terjadi.

Beberapa orang dalam daftar repatriasi Pemerintah Bangladesh menghilang ke dalam kamp pengungsian yang luas untuk menghindari dipulangkan, sementara yang lain bergabung dengan demonstrasi besar menentang rencana tersebut.

PBB menyambut perkembangan itu. Juru bicara Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi di Cox's Bazar, Firas Al Khateeb mengatakan, tidak jelas kapan proses pemulangan itu akan dimulai lagi.

"Kami ingin repatriasi mereka, tetapi itu harus secara sukarela, aman, dan halus," kata dia.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Bangladesh AH Mahmood Ali menegaskan, pihaknya tidak akan memaksa para pengungsi untuk kembali ke Myanmar.

"Tidak ada pemulangan paksa. Kami memberi mereka tempat berteduh, jadi mengapa kami harus mengirim mereka kembali secara paksa?" ujarnya.

Lebih dari 700 ribu Muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh dari Negara Bagian Rakhine di Myanmar barat. Mereka menyelamatkan diri dari pembunuhan dan pembantaian oleh militer dan pengikut Buddha yang memicu kecaman luas terhadap Myanmar.

Bangladesh berencana mengirim sebanyak 2.251 pengungsi sebagai kelompok awal kembali ke Myanmar dari pertengahan November dengan cara orang 150 per hari.

Pejabat Myanmar menyatakan siap menerima para pengungsi. Meskipun ada jaminan, aktivis hak asasi manusia dan PBB menegaskan, kondisi belum aman bagi warga Rohingya untuk kembali.

Negosiasi untuk repatriasi dilakukan selama berbulan-bulan, tetapi rencana untuk memulai mengirim pengungsi kembali dibatalkan di tengah kekhawatiran bahwa kembalinya mereka akan dipenuhi dengan kekerasan.

Para pemimpin asing, termasuk Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Mike Pence, mengkritik pemimpin Myanmar sekaligus pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi pekan ini di sela-sela KTT ASEAN di Singapura terkait penanganan krisis Rohingya.

Editor : Nathania Riris Michico