Perang Berpotensi Meluas, Inggris Siap-Siap Hadapi Serangan Iran
Sebelumnya Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran melabeli Inggris sebagai kaki tangan AS dalam perang. Sementara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan, negara mana pun yang membantu AS secara militer akan bertanggung jawab atas konsekuensi dan dampaknya.
Namun Presiden AS Donald Trump berulang kali mengkritik pemerintah Inggris serta mantan Perdana Menteri Keir Starmer karena enggan membantu operasi militer melawan Iran.
Namun sebenarnya, beberapa hari setelah perang AS-Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari, Inggris memberi izin kepada AS untuk menggunakan pangkalan-pangkalannya, termasuk RAF Fairford di Gloucestershire dan Diego Garcia di Samudera Hindia. Pangkalan-pangkalan tersebut bisa dimanfaatkan AS untuk menyerang infrastruktur militer Iran, terutama yang digunakan untuk menyerang negara-negara Teluk dan kapal-kapal di Selat Hormuz.
Kebijakan tersebut belum diubah oleh Perdana Menteri baru Andy Burnham. Dia diberitahu bahwa keputusan telah dibuat untuk memperpanjang perjanjian dengan AS.
Kantor berita Iran Tasnim melaporkan, pesawat-pesawat misi pengeboman AS telah diluncurkan dari RAF Fairford. Namun belum ada pernyataan dari Kementerian Pertahanan Inggris, apakah pangkalan tersebut digunakan oleh AS untuk operasi melawan Iran.
Pada 19 Maret lalu, Iran menembakkan dua rudal balistik ke pangkalan Diego Garcia milik Inggris di Kepulauan Chagos. Salah satu rudal gagal di tengah jalan, sementara satu lainnya ditembak jatuh oleh kapal perang AS.
Saat itu muncul keraguan apakah Iran memiliki rudal yang mampu mencapai kepulauan tersebut, yang berjarak sekitar 3.600 km dari Iran. Namun pada bulan yang sama, Israel mengeklaim Iran memiliki rudal yang dapat menjangkau 4.000 km, yang secara teori bisa mencapai Inggris dan negara-negara Eropa daratan lainnya.
Editor: Anton Suhartono