Perang Kelompok Kriminal Bersenjata Rebutan Wilayah Tewaskan 8 Orang
BANGLADESH, iNews.id - Perang antara kelompok bersenjata kriminal di kamp penampungan Rohingya di Bangladesh selatan menyebabkan sedikitnya delapan orang serta memaksa ribuan orang melarikan diri.
Pihak keamanan pada Kamis (8/10/2020) telah menangkap 12 orang setelah insiden baku tembak yang terjadi selama beberapa hari terakhir. Kelompok bersenjata juga melakukan pembakaran dan penculikan.
Motif tindak kekerasan itu adalah untuk menguasai wilayah tempat kamp-kamp pengungsi Rohingya terbesar di dunia berada.
Kamp-kamp pengungsi di Bangladesh menampung satu juta muslim Rohingya sejak 2017 setelah tindakan militer Myanmar memaksa lebih dari 730.000 dari mereka meninggalkan rumah.
Hina Nabi Muhammad di Facebook, Satpam di Bangladesh Divonis 7 Tahun Penjara
"Situasi tegang tengah terjadi di sana (kamp pengungsian)," kata Rafiqul Islam, seorang petugas polisi tambahan yang berbasis di kota terdekat, Cox's Bazar dikutip dari Aljazeera, Jumat (9/10/2020).
"Dua kelompok (bersenjata) berusaha menguasai daerah itu," lanjutnya.
Militer Myanmar Berusaha Lemahkan Pengakuan 2 Tentara soal Pemusnahan Rohingya
Polisi menduga kelompok bersenjata ingin memanfaatkan para pengungsi Rohingya sebagai komoditi perdagangan manusia serta menutupi aktifitas penjualan narkoba yang dijalankan.
Wilayah Bangladesh selatan terkenal dengan perdagangan obat-obatan terlarang seperti metamfetamin yang menguntungkan. Obat yang bisa memberikan efek halusinasi itu diproduksi wilayah di seberang perbatasan Myanmar.
Video Ungkap Tentara Myanmar Diperintahkan Bunuh Muslim Rohingya
Lebih dari 100 pengungsi Rohingya telah terbunuh sejak 2018 dalam insiden yang menurut kelompok hak asasi manusia adalah pembunuhan di luar hukum.
Namun, polisi mengatakan para korban terjebak dalam insiden baku tembak antara polisi dan tersangka penyelundup narkoba.
Tiga pengungsi yang tidak mau disebutkan namanya menyebut dua kelompok di balik pertempuran itu adalah geng "Munna"--mengambil nama dari seorang pengedar narkoba lokal terkenal--dan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA)--sebuah kelompok bersenjata yang memiliki pasukan di banyak kamp.
Para pengungsi Rohingya menuduh ARSA melakukan penculikan dan serangan.
Dalam sebuah postingan di Twitter, kelompok tersebut membantah bertanggung jawab atas kekerasan terbaru dan menyalahkan penjahat yang berusaha melontarkan fitnah.
Aksi kekerasan terbaru oleh kelompok bersenjata memaksa sekitar 2.000 keluarga Rohingya mengungsi, meskipun beberapa telah kembali pada Kamis.
"Kami hidup dalam ketakutan, terutama di malam hari," kata seorang pengungsi.
"Tadi malam, satu kelompok melakukan aksi pembakaran. Kemana kita akan pergi sekarang?," lanjutnya.
Editor: Arif Budiwinarto