Peretasan Kripto Terbesar dalam Sejarah, Binance Siapkan Rp114 Triliun untuk Ganti Rugi
Sementara, Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) menyatakan Korea Utara bertanggung jawab atas serangan tersebut. FBI mengungkapkan telah mengamati para peretas mengonversi aset curian ke dalam mata uang kripto Ethereum.
Aset tersebut diperkirakan akan kembali dikonversi menggunakan layanan keuangan terdesentralisasi atau decentralized finance (DeFi) serta layanan pertukaran instan untuk menyamarkan jejak transaksi.
Sebelumnya, dua perusahaan analisis kripto mengatakan kepada BBC bahwa mereka memiliki informasi kuat yang mengarah pada kelompok peretas Lazarus Group, yang diduga didukung negara Korea Utara. Kelompok tersebut juga dikenal dengan nama TraderTraitor dan secara khusus disebut FBI sebagai pihak yang terlibat.
Namun, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pemerintahnya masih belum mengetahui secara pasti siapa pelaku serangan tersebut.
"Kami sedang mempelajarinya. Kami belum tahu apakah itu Korea Utara. Namun, jika memang demikian, kami akan berbicara dengan Korea Utara mengenai hal itu," ujar Trump kepada wartawan pada Sabtu malam.
Pemerintah Korea Utara selama ini selalu membantah keterlibatan dalam serangan peretasan tersebut.
Binance didirikan di China pada 2017 dan memungkinkan pengguna membeli, menjual, serta memperdagangkan aset digital. Bursa tersebut diperkirakan memiliki ratusan juta pengguna di seluruh dunia.
Editor: Aditya Pratama