Organisasi Gereja Rusia Kritik Turki soal Rencana Perubahan Hagia Sophia
MOSKOW, iNews.id - Organisasi Gereja Ortodok Rusia menegaskan perubahan fungsi Hagia Sophia menjadi masjid berpotensi memantik perseteruan antara Muslim dan Kristen.
Pernyataan tersebut dikemukakan di tengah rencana Turki menjadikan bangunan berarsitektur menawan tersebut sebagai masjid. Sebelumnya, Hagia Sophia berstatus sebagai museum.
Patriach Kirill, Pemimpin Gereja Ortodoks Rusia, mengatakan rencana perubahan fungsi Hagia Sophia jadi perhatian khusus dari kelompoknya. Dia menyebut bangunan yang terletak di Kota Istanbul tersebut merupakan simbol bersejarah dalam perjalanan kebudayaan kristen di Eropa.
"Ancaman (perubahan fungsi) pada Hagia Sophia merupakan ancaman bagi semua peradaban kristen," kata Patriach dilansir dari Arab News, Selasa (7/7/2020).
Rusia Senang Fatah dan Hamas Bersatu Lawan Aneksasi Israel di Palestina
"Sampai hari ini, bagi orang kristen ortodoks Rusia, Hagia Sophia adalah kuil kristen terbesar," lanjutnya.
Dalam sejarahnya, Hagia Sophia dibangun sebagai gereja pada abad keenam di masa Kekaisaran Byzantium. Pada 1453, bangunan ikonik tersebut diubah fungsinya sebagai masjid setelah penaklukan kota Constantinople oleh Kesultanan Ottoman.
2 Situs Kuno Suku Aborigin Berusia 7.000 Tahun Ditemukan di Dasar Laut Australia
Setelah Kesultanan Ottoman berakhir, Turki di bawah tokoh pembaharu Mustafa Kemal Ataturk kembali mengubah status Hagia Sophia sebagai museum dan terdaftar sebagai Bangunan Warisan Dunia di UNESCO.
"Gambaran gereja ini telah tertanam kuat dalam budaya dan sejarah kita. Hagia Sophia tetap menjadi tempat pemujaan Kristen yang agung bagi setiap penganut Ortodoks Rusia."
"Adalah kewajiban setiap negara beradab untuk menjaga keseimbangan untuk merekonsiliasi masyarakat, dan tidak memperburuk perselisihan di dalamnya," ucap Kirill.
Juru bicara Pemerintah Rusia, Dmitry Peskov, mengatakan masa depan bangunan bersejarah Hagia Sophia merupakan "urusan dalam negeri Turki", namun demikian dia berharap Turki mempertimbangkan kembali rencana menjadikan Hagia Sophia sebagai masjid.
Editor: Arif Budiwinarto