Perusahaan di Iran Produksi Ribuan Bendera AS dan Israel untuk Dibakar

Anton Suhartono ยท Kamis, 30 Januari 2020 - 11:01 WIB
Perusahaan di Iran Produksi Ribuan Bendera AS dan Israel untuk Dibakar

Bendera AS dan Israel diproduksi di Iran untuk dibakar (Foto: AFP)

KHOMEIN, iNews.id - Sebuah perusahaan di Iran menerima banyak pesanan bendera negara-negara Barat, yakni Amerika Serikat, Israel, dan Inggris. Tapi bendera-bendera itu dipesan bukan untuk acara kenegaraan, melainkan dibakar.

Sejak unjuk rasa pecah terkait pembunuhan jenderal Qasem Soleimani oleh pasukan AS pada 3 Januari 2020, banyak warga Iran yang mencari bendera negara-negara tersebut untuk dibakar.

Di pabrik yang berlokasi di Kota Khomein, tenaga kerja laki-laki dan perempuan mencetak bendera secara manual kemudian menggantungnya untuk dijemur.

Pabrik itu memproduksi sekitar 2.000 bendera AS dan Israel per bulan di masa sibuk ini. Dalam setahun, pabrik bernama Diba Parcham itu bisa menghabiskan bahan 500.000 meter persegi untuk membuat bendera.

Setiap kali aksi unjuk rasa yang diadakan negara, para pengunjuk selalu membawa bendera AS, Israel, bahkan Inggris, untuk diinjak-injak lalu dibakar.

Pemilik pabrik, Ghasem Ghanjani, mengaku tak punya masalah dengan rakyat AS dan Israel, melainkan dengan pemerintahan mereka.

"Kami tak punya masalah dengan rakyat AS dan Inggris. Kami punya masalah dengan gubernur, presiden, dan kebijakan mereka yang salah," ujarnya, dikutip dari Reuters, Kamis (30/1/2020).

"Rakyat AS dan Israel tahu bahwa kita tidak punya masalah dengan mereka. Jika orang membakar bendera negara-negara saat unjuk rasa, itu untuk menunjukkan protes mereka," tuturnya, lagi.

Rezaei, manajer quality control pabrik, mengatakan, membakar bendera merupakan bentuk kebencian yang paling bisa dilakukan warga Iran kepada AS.

"Dibandingkan dengan tindakan pengecut AS, seperti membunuh jenderal Soleimani, ini merupakan tindakan minimal terhadap mereka, paling tidak ini yang bisa dilakukan," katanya.

Bagi kelompok garis keras di Iran, sentimen anti-AS merupakan inti dari revolusi Islam.

Namun tak semua warga Iran menentang AS, setidaknya hal ini diketahui saat gelombang unjuk rasa di penjuru negeri memprotes ketidakberdayaan pemerintah dalam menghadapi krisis ekonomi negara itu pada November 2019.

Warga turun ke jalan untuk memprotes otoritas tertinggi dengan meneriakkan, "Musuh kita bukan AS, tapi ada di sini."

Dalam unjuk rasa bulan ini memprotes militer yang menembak jatuh pesawat maskapai Ukraina, warga di Teheran menolak menginjak gambar bendera AS di jalan.

Editor : Anton Suhartono