Pidato di PBB, Adik George Floyd: Nyawa Orang Kulit Hitam Tak Dihargai di AS

Anton Suhartono ยท Kamis, 18 Juni 2020 - 13:29:00 WIB
Pidato di PBB, Adik George Floyd: Nyawa Orang Kulit Hitam Tak Dihargai di AS
Philonise menyampaikan pidato di sidang Dewan HAM PBB (Foto: AFP)

JENEWA, iNews.id - Adik George Floyd, Philonise, menyampaikan pidato di hadapan peserta sidang debat Dewan HAM PBB, Rabu (17/6/2020), membahas rasisme sistemik di Amerika Serikat (AS).

Pada kesempatan tersebut, pria berusia 30 tahunan itu mengatakan, nyawa orang kulit hitam tidak dihargai di AS.

Dia menyertakan bukti dengan mengisahkan kembali saat-saat sang kakak meregang nyawa dalam penahanan empat polisi. Tak ada ampunan meski Floyd sudah berteriak tidak bisa bernapas.

"Nyawa orang kulit hitam tidak dihargai di Amerika Serikat. Polisi tidak menunjukkan belas kasih, perikemanusiaan, dan menyiksa saudara saya hingga meninggal di tengah jalan Minneapolis dengan sekerumunan orang menonton dan memohon kepada para polisi untuk menghentikannya. Ini sekali lagi memberikan pelajaran yang sama kepada kami, warga kulit hitam, bahwa nyawa kami tidak dihargai di Amerika Serikat," kata dia, seperti dikutip dari Xinhua, Kamis (18/6/2020).

Lebih lanjut Philonise menambahkan, empat polisi yang membekuk kakaknya baru diberhentikan setelah muncul demonstrasi di penjuru AS. Ini menunjukkan hukum baru bergerak ketika ada desakan.

"Saat orang-orang berani angkat suara dan memprotes kematian saudara saya, mereka dilempari gas air mata, dilindas kendaraan polisi, beberapa orang kehilangan mata dan mengalami kerusakan otak akibat terkena peluru karet, dan para demonstran damai pun ditembaki dan dibunuh oleh polisi," tuturnya.

Kakaknya, tegas Philonise, bukan satu-satunya orang kulit hitam yang dibunuh oleh polisi AS. Ini memberikan sinyal bahwa ada kemungkinan rasisme sudah masuk ke penegak hukum.

Oleh karena itu dia mendesak Dewan HAM PBB membentuk komisi independen untuk menyelidiki pembunuhan warga kulit hitam oleh polisi di AS serta kekerasan terhadap demonstran Black Lives Matter.

Editor : Anton Suhartono