PM Singapura Sebut Negaranya Hadapi Kesulitan akibat Konflik AS dan China

Anton Suhartono ยท Senin, 08 Juni 2020 - 09:38 WIB
PM Singapura Sebut Negaranya Hadapi Kesulitan akibat Konflik AS dan China

Lee Hsien Loong (Foto: AFP)

SINGAPURA, iNews.id - Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong mengkhawatirkan meningkatnya ketegangan antara China dan Amerika Serikat (AS).

Pandemi virus corona semakin memperuncing konflik kedua negara yang dampaknya juga dirasakan negara lain. AS menuduh China tidak transparan soal penanganan wabah Covid-19 sehingga dampaknya dirasakan seluruh dunia. Namun China menepis tuduhan itu dan menjelaskan tak ada yang ditutupi dan sejak awal terus membagikan data serta berkerja sama dengan negara lain.

Menurut Lee, kondisi ini akan berdampak besar bagi negara kecil seperti Singapura.

"Akan menjadi lebih sulit bagi negara-negara untuk tetap berpihak pada kedua kekuatan. Kondisi ini akan menjad lebih berbahaya bagi negara kecil seperti Singapura," kata Lee, dalam pidatonya, seperti dikutip dari The Straits Times, Senin (8/6/2020).

Lee menambahkan, Singapura harus bekerja dengan negara-negara yang berpikiran sama untuk mendukung perdagangan bebas dan multilateralisme, serta meningkatkan pengaruh di dunia.

“Kita harus memastikan keamanan serta melindungi dan memajukan kepentingan ketika berhadapan dengan negara lain, besar dan kecil,” tutur Lee.

Lee sebelumnya memperingatkan dampak global dari memburuknya hubungan AS dan China. Singapura dan negara-negara Asia tidak ingin dipaksa untuk memihak antara dua kekuatan tersebut.

Dalam pidato terbaru ini, Lee kembali menegaskan setiap negara akan berusaha tidak bergantung satu sama lain, terutama di sektor barang dan layanan penting seperti makanan atau pasokan medis.

"Mereka akan lebih memperdebatkan bagaimana kue dibagikan, ketimbang bekerja sama untuk memperbesar kue itu bagi semua. Ini akan menjadi dunia yang kurang sejahtera dan juga bermasalah," kata Lee.

Secara historis, Singapura mengandalkan pemasukan melalui kerja sama dengan negara lain. Pertama, sebagai pusat perdagangan, lalu pelabuhan internasional, dan kemudian sekarang pusat penerbangan, keuangan, dan telekomunikasi.

Negara, kata Lee, mendapat banyak manfaat dari ekonomi global yang terbuka dan terhubung dengan sebagian besar perekonomiannya melayani pasar regional dan internasional.

Namun saat ini negara harus siap menghadapi kondisi sangat berbeda di masa depan karena perusahaan besar dan kecil akan terpukul keras serta perubahan permanen di beberapa industri.

Lee menyebut pengurangan akan meningkat, beberapa sektor pekerjaan akan hilang selamanya, dan pekerja harus belajar keterampilan baru agar bisa bertahan.

"Beberapa tahun ke depan akan ada gangguan dan kesulitan bagi kita semua," katanya.

Editor : Anton Suhartono