Presiden Meksiko Terpilih Jual Pesawat Kepresidenan, Dibeli Pengusaha

Anton Suhartono ยท Sabtu, 25 Agustus 2018 - 06:31 WIB
Presiden Meksiko Terpilih Jual Pesawat Kepresidenan, Dibeli Pengusaha

Pesawat Kepresidenan Meksiko (Foto: AFP)

MEXICO CITY, iNews.id - Presiden Meksiko terpilih, Andres Manuel Lopez Obrador, ingin menjual pesawat kepresidenan karena dianggap sebagai pemborosan. Dia sudah mendapat calon pembelinya, yakni seorang pengusaha Gustavo Jimenez Pons.

Dilaporkan AFP, Jumat (24/8/2018), yang mengutip pemberitaan surat kabar Reforma, Jimenez Pons mengajukan penawaran pada Kamis kemarin kepada Lopez Obrador.

Menariknya, sebelum menawarkan pesawat, Jimenez Pons ikut antre dengan warga lainnya di luar kantor. Mereka ingin bertemu Obrador untuk berbagai keperluan.

Setelah bertemu, dia menawarkan akan membeli pesawat Boeing Dreamliner 787 itu seharga 99 juta dolar AS atau sekitar Rp1,4 triliun. Namun angka yang ditawarkan itu masih jauh dari nilai pesawat sebenarnya yang menurut laporan Reforma mencapai 220 juta dolar AS atau Rp3,2 triliun.

Jika dimiliki, pesawat itu akan disewakan Pons dengan harga 20.000 dolar AS per jam.

Jimenez Pons ingin Boeing Dreamliner berkapasitas 300 tempat duduk itu disewa presiden negara lain yang tak memiliki pesawat khusus atau grup musik seperti Rolling Stones untuk keperluan tur.

Sementara itu Lopez Obrador sudah memutuskan tidak akan menggunakan pesawat kepresidenan atau jet pribadi untuk keperluan dinasnya. Karena itu, dia akan menjualnya.

Pesawat itu dibeli di masa pemerintahan presiden Enrique Pena Nieto pada 2016. Bagian dalamnya sudah dimodifikasi dengan memasang perangkat komunikasi yang canggih dan tempat istirahat khusus untuk presiden.

Lopez Obrador terpilih pada Juli lalu dan akan dilantik pada 1 Desember mendatang. Sementara itu Jimenez Pons bisa dibilang pengusaha yang gagal jadi penguasa. Dia pernah ikut dalam pemilihan wali kota Mexico City pada 2006 namun gagal. Selanjutnya, Jimenez Pons mencoba peruntungan dengan maju dalam pemilihan presiden dari jalur perseorangan. Namun dia tak bisa melanjutkan pertarungan karena gagal mengumpulkan tanda tangan sesuai jumlah yang disyaratkan.


Editor : Anton Suhartono