Presiden Rouhani: Jelang Pilpres AS, Trump Tak Akan Berperang dengan Iran

Nathania Riris Michico ยท Senin, 17 Februari 2020 - 13:15 WIB
Presiden Rouhani: Jelang Pilpres AS, Trump Tak Akan Berperang dengan Iran

Presiden Iran Hassan Rouhani saat konferensi pers di ibu kota Teheran, 16 Februari 2020. (FOTO: ATTA KENARE / AFP)

TEHERAN, iNews.id - Presiden Iran Hassan Rouhani pada Minggu (16/2/2020) mengatakan dia tidak yakin Amerika Serikat (AS) akan memulai perang dengan negaranya. Sebab hal itu akan merugikan upaya Presiden Donald Trump agar terpilih kembali untuk masa jabatan kedua.

Rouhani menegaskan bahwa Trump tahu persis berperang dengan Iran akan merugikan peluangnya memenangkan pemilu presiden 2020 ini.

Pemimpin Iran itu menyebut, perang akan merugikan kepentingan AS dan kepentingan sekutu di kawasan, serta Iran.

"Saya pikir Amerika tidak akan memulai perang karena mereka tahu hal itu akan merugikan mereka," ujar Rouhani dalam konferensi pers, seperti dilaporkan Associated Press, Senin (17/2/2020).

Dia menuturkan, negara-negara Teluk Persia seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Qatar akan paling banyak menderita kerugian jika konflik antara Iran dan AS bergulir menjadi perang.

Iran dan AS hampir terlibat konflik terbuka Januari lalu ketika sebuah pesawat drone Amerika membunuh panglima pasukan elit Iran, Qassem Soleimani, di luar Baghdad, Irak.

Iran membalas dengan meluncurkan serangkaian serangan rudal terhadap pangkalan militer AS di Irak.

Ketegangan terus memuncak sejak Trump menarik AS mundur dari perjanjian nuklir yang disepakati dengan Iran dan empat negara adidaya lain pada 2015 lalu, dan memberlakukan kembali sanksi ekonomi yang melumpuhkan Iran.

Rouhani menggarisbawahi bahwa AS seharusnya mengembalikan perjanjian nuklir itu jika ingin Iran kembali ke meja perundingan.

"Kita pada akhirnya suatu hari nanti akan dapat memaksa musuh kembali ke meja perundingan seperti sebelumnya," ujar Rouhani, merujuk pada Amerika.

Rouhani juga mendorong warga Iran memberikan suara dalam pemilu parlemen Jumat (21/2/2020) mendatang, sebagai pembangkangan terhadap Amerika.

"Amerika tidak senang dengan jumlah pemilih yang tinggi," ujarnya.

"Tentunya mereka (Amerika) akan senang jika tingkat partisipasi dalam pemilu parlemen rendah."

Pemilu parlemen Iran dipandang sebagai ujian atas popularitas kelompok Rouhani, yang relatif moderat dan pro-reformasi. Namun demikian, pemerintahan Rouhani masih berupaya keras memenuhi janji-janji kampanyenya, yaitu memulihkan tingkat kehidupan rakyat ketika perekonomian negara itu terpukul akibat sanksi-sanksi ekonomi AS.

Otoritas Iran juga melarang ribuan kandidat parlemen mencalonkan diri, terutama dari kelompok reformis dan moderat.

Pemilu parlemen Jumat besok dapat memperkuat kelompok garis keras Iran, yang berhasil melakukan konfrontasi dengan Barat.


Editor : Nathania Riris Michico