Profesor Singapura Peringatkan Ancaman Wabah Virus Corona Jenis Lain dalam 10 Tahun

Anton Suhartono ยท Selasa, 07 Juli 2020 - 11:15 WIB
Profesor Singapura Peringatkan Ancaman Wabah Virus Corona Jenis Lain dalam 10 Tahun

Wang Linfa (Foto: The Straits Times)

SINGAPURA, iNews.id - Covid-19 merupakan wabah penyakit besar ketiga di dunia yang disebabkan virus berasal dari hewan. Namun ini diyakini bukan yang terakhir.

Direktur program penyakit menular Universitas Nasional Singapura (NUS), Wang Linfa, dalam webinar yang diselenggarakan NUS, Senin (6/7/2020), mengatakan akan ada penyakit disebabkan virus corona jenis lainnya dalam 10 tahun mendatang.

Dua wabah sebelumnya disebabkan virus yang melompat dari hewan adalah sindrom pernapasan akut SARS pada 2003 dan sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS) pada 2012.

Pada Desember 2013 atau setelah munculnya wabah MERS di Arab Saudi, Wang memperingatkan lompatan virus corona lain dari hewan ke manusia dalam 10 tahun. Prediksinya terbukti benar dengan munculnya Covid-19.

Kini dia kembali menyampaikan peringatan mengenai ancaman virus corona jenis baru. Dia menyebut virus itu kembali akan melompat antarspesies dalam 10 tahun mendatang. Namun yang masih menjadi misteri kapan waktu pastinya serta seberapa parah.

"Limpahan virus corona pasti akan terjadi, pertanyaannya adalah kapan. Ketidakpastian lainnya adalah apakah ini akan menjadi wabah besar atau tidak,” ujarnya, seperti dilaporkan The Straits Times, Selasa (7/7/2020).

Jika dibandingkan tiga wabah yang sudah terjadi, MERS tidak mudah menular, namun tingkat kematiannya tinggi yakni 1 banding 3. SARS lebih mudah menular dengan potensi kematian 10 persen.

Sementara Covid-19 menular dengan mudah, tapi tingkat kematian bervariasi di setiap negara, berkisar dari antara 1 hingga yang terparah 10 persen.

Selain ancaman wabah virus corona jenis lain, para pakara mengkhawatirkan SARS-CoV-2, sebagai pnyebab Covid-19, dapat berpindah dari manusia ke hewan, kemudian melompat lagi ke manusia.

Lebih lanjut Wang mengaitkan tingginya kasus di suatu wilayah dengan populasi kelelawar. Hewan malam satu ini disebut-sebut sebagai awal mula virus yang kini telah menginfeksi lebih dari 11,5 juta orang di seluruh dunia.

Wang mencontohkan Brasil yang saat ini mengonfirmasi 1,6 juta kasus lebih.

"Kita bisa mendapati kelelawar di mana-mana. Ada banyak kelelawar di hutan Amazon,” tuturnya.

Hal yang dikhawatirkan, lanjut dia, virus corona melompat ke kelelawar dan kelelawar membawa lagi virus itu ke manusia tanpa gejala.

"Dari waktu ke waktu, itu akan menyebar ke hewan lain dan ke manusia," katanya.

Editor : Anton Suhartono