Proyek Ambisius Rusia: Vaksin Covid-19 Bisa Tersedia 10 Agustus 2020
MOSKOW, iNews.id - Rusia terus mempercepat proses uji coba vaksin Covid-19 agar dapat dipakai secara luas pada pekan kedua Agustus mendatang. Namun demikian, proyek ambisius tersebut justru memicu kekhawatiran tentang keamanan dan keefektifannya.
Dilansir dari CNN, Kamis (30/7/2020) malam WIB, para pejabat Rusia mengatakan bahwa mereka tengah bekerja keras agar vaksin buatan Gamaleya Institute yang berbasis di Moskow bisa digunakan sebelum tanggal 10 Agustus mendatang atau lebih awal lagi.
Nantinya, setelah vaksin disetujui untuk penggunaan umum, para petugas medis yang berada di garis terdepan penanganan Covid-19 akan diprioritaskan.
Ilmuwan Rusia mengklaim pengembangan vaksin Covid-19 di negaranya sudah memasuki fase ketiga dan bisa berlangsung lebih cepat karena merupakan versi modifikasi dari yang sudah dibuat memerangi penyakit lain.
Indonesia Jajaki Kerja Sama dengan Turki soal Pesawat hingga Vaksin Covid-19
Kepala Lembaga Kekayaan Negara, Kirill Dmitriev, menyebut program ambisius Rusia terkait vaksin Covid-19 akan menjadi tonggak bersejarah bagi negara itu seperti keberhasilan mereka meluncurkan satelit Sputnik pada 1957.
"Ini momen Sputnik," kata Kirill.
Vaksin Covid-19 Sinovac Masuk Uji Klinis Tahap 3, Bio Farma Butuh Relawan
"Orang Amerika terkejut saat mereka mendengar suara dari Sputnik. Ini akan sama dengan vaksin yang kami buat. Rusia akan mendapatkan vaksin pertama di dunia," ujarnya.
Akan tetapi, program percepatan vaksin Covid-19 milik Rusia menimbulkan tanda tanya besar. Sebab, pemerintah tidak merilis data ilmiah mengenai hasil pengujian vaksinnya.
Para kritikus mengklaim desakan negara itu segera mendapatkan vaksin Covid-19 bulan depan disebabkan tekanan politik dari Kremlin, yang ingin mencitrakan Rusia sebagai kekuatan ilmu pengetahuan di dunia.
Wajar bila kekhawatiran muncul di tengah optimisme Rusia berada di garis terdepan perlombaan penciptaan virus Covid-19, pasalnya negara-negara maju seperti China, Amerika Serikat, dan Inggris masih dalam tahap pengujian pada manusia. Bahkan, negara-negara tersebut memperkirakan vaksin baru akan tersedia paling cepat di akhir tahun ini.
Editor: Arif Budiwinarto