Puluhan Ribu Pasien Covid-19 di Bangladesh Tak Mau Dirawat di Rumah Sakit

Ahmad Islamy Jamil ยท Sabtu, 11 Juli 2020 - 16:01 WIB
Puluhan Ribu Pasien Covid-19 di Bangladesh Tak Mau Dirawat di Rumah Sakit

Ilustrasi perawatan pasien Covid-19 di rumah sakit. (Foto: Istimewa)

DHAKA, iNews.id – Ribuan tempat tidur rumah sakit yang disediakan khusus untuk pasien virus corona di Bangladesh tampak kosong, meski negara itu tengah berjuang keras melawan wabah Covid-19. Pejabat setempat mengatakan, masyarakat Bangladesh terlalu takut untuk masuk rumah sakit.

Beberapa pasien dengan blak-blakan mengatakan kepada petugas kesehatan bahwa mereka lebih baik mati di rumah daripada mati di rumah sakit, menurut seorang pimpinan salah satu lembaga sosial di Bangladesh kepada AFP.

Bangladesh sejauh ini telah mencatat sekitar 180.000 infeksi Covid-19. Ada sekitar 3.000 kasus baru bertambah setiap hari di negara itu. Sementara, jumlah pasien yang meninggal dunia akibat virus corona di Bangladesh telah mencapai 2.275 jiwa pada Jumat (10/7/2020) kemarin.

Para ahli medis mengatakan, jumlah kasus yang sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi karena pengujian Covid-19 yang dilakukan di Bangladesh amat minim.

Di Ibu Kota Dhaka, sekitar 4.750 dari 6.305 tempat tidur rumah sakit yang disisihkan untuk pasien virus corona tidak digunakan. Sementara, di rumah sakit lapangan di kota itu, dari 2.000 tempat tidur baru yang dibangun khusus untuk memerangi pandemi, hanya sekitar 100 yang diisi oleh pasien.

“Sebagian besar pasien (Covid-19) memiliki gejala ringan. Selain itu, kami memiliki layanan telemedicine yang memadai. Itu mungkin juga menjadi alasan mengapa banyak tempat tidur rumah sakit yang kosong,” klaim Wakil Kepala Departemen Kesehatan Bangladesh, Nasima Sultana, kepada AFP, akhir pekan ini.

Akan tetapi, klaim tersebut dibantah para ahli kesehatan dan pengidap virus corona di Bangladesh. Mereka mengatakan, banyak orang khawatir akan tingkat perawatan yang bakal mereka terima di rumah sakit milik pemerintah.

“Mereka mengatakan kepada kami bahwa mereka lebih baik mati di rumah daripada mati di rumah sakit,” ungkap salah seorang aktivis dari al-Manahil, lembaga amal yang menyediakan layanan ambulans dan pemakaman di Chittagong.

Sebuah survei terhadap lebih dari 80.000 orang, yang dilakukan dengan dukungan dari PBB menemukan bahwa 44 persen orang Bangladesh terlalu takut dibawa ke rumah sakit jika hasil tes Covid-19 mereka ternyata positif.

Di Kota Chittagong—yang kini juga menjadi titik panas penyebaran virus corona di Bangladesh—hanya setengah dari total tempat tidur khusus Covid-19 di rumah sakitnya yang terisi pasien. Ada sekitar 87.000 kasus virus corona aktif Bangladesh. Sebanyak 80 persennya berada di Dhaka dan Chittagong—dua kota besar dengan total gabungan penduduknya mencapai 25 juta jiwa.

Editor : Ahmad Islamy Jamil