Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Erdogan Bantah Pilpres Turki Akan Dipercepat
Advertisement . Scroll to see content

Refleksi 15 Tahun Kepemimpinan Erdogan di Turki

Senin, 25 Juni 2018 - 11:49:00 WIB
Refleksi 15 Tahun Kepemimpinan Erdogan di Turki
Racep Tayyip Erdogan (Foto: AFP)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Racep Tayyip Erdogan hampir pasti memenangkan pemilihan presiden (pilpres) Turki 2018, hanya menunggu pengumuman resmi dari komisi pemilihan pada Jumat (29/6/2018).

Berdasarkan penghitungan oleh komisi pemilihan, sebagaimana dilaporkan kantor berita Anadolu, Erdogan meraih 53 persen suara, meninggalkan jauh pesaing terdekatnya, Muharrem Ince, yang memperoleh 31 persen.

Jika terpilih kembali, maka ini menjadi periode kedua bagi Erdogan. Sebelumnya, Erdogan sudah menjabat sebagai perdana menteri.

Berikut bunga rampai perjalanan Erdogan selama memimpin Turki, seperti dikutip dari AFP:

1. Kemenangan Partai AKP

Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang didirikan Erdogan memenangkan pemilihan legislatif pada 2002. Perjalanan AKP termasuk mulus karena berhasil meraih kemenangan meskipun usia partai berakar Islam baru satu tahun. AKP meraih 363 dari 550 kursi yang tersedia.

Kendati memimpin AKP, namun saat itu Erdogan tak bisa menjadi perdana menteri. Alasannya, ada halangan aturan yakni tuduhan menghasut kebencian agama saat menjadi Wali Kota Istanbul.

Namun pemerintahan yang baru mengubah aturan soal itu dan Erdogan menjadi perdana menteri pada Maret 2003.

2. Periode 2002-2004

Selama dua tahun, Erdogan melakukan banyak reformasi di Turki, termasuk di bidang demokrasi. Turki membolehkan siaran berbahasa Kurdi di televisi serta menghapus hukuman mati.

3. Turki dan Uni Eropa

Pada Oktober 2005, Erdogan memulai pembicaraan untuk bergabung dengan Uni Eropa, namun prosesnya terhenti di tengah jalan karena beberapa perbedaan.

Pada Agustus 2007, anggota parlemen memilih menteri luar negeri Abdullah Gul sebagai presiden. Ini merupakan pertama kalinya seorang kandidat berakar Islam diberi jabatan tertinggi di negara sekuler itu.

4. Protes Anti-Erdogan

Pada 2013 Turki diguncang demonstrasi besar menentang Erdogan. Para aktivis menentang kebijakan pembangunan Erdogan.

Pada Mei, polisi anti-huru hara terpaksa menggunakan gas airmata dan meriam air untuk membubarkan ratusan orang di alun-alun Taksim, Istanbul. Aksi meluas dan berlangsung selama beberapa pekan. Delapan orang tewas dalam bentrokan dengan pasukan keamanan.

Namun Erdogan tetap terpilih sebagai presiden pada Agustus 2014 dan bersumpah untuk memulai era baru rekonsiliasi dengan para lawannya.

5. Kehilangan Mayoritas Suara

Partai penguasa pemerintahan, AKP, sempat kehilangan mayoritas mutlak untuk pertama kalinya dalam pemilihan legislatif pada Juni 2015. Tapi Erdogan menyerukan pemilihan umum pada November dan partai mendapatkan kembali mayoritasnya.

6. Tantangan dari pemberontak Kurdi dan ISIS

Pada Juli 2015, partai terlarang, Partai Pekerja Kurdistan (PKK), menuntut lebih banyak hak bagi minoritas Kurdi. Mereka juga mengkhianati perjanjian gencatan senjata hampir dua tahun.

Pertempuran pun berlanjut. Sejak konflik pada 1984, lebih dari 40.000 tewas. Serangan berulang yang terkait dengan pemberontak Kurdi dan kelompok ISIS terus terjadi sampai pada 2017. Saat perayaan Tahun Baru, pengunjung sebuah klub malam di Istanbul dibunuh kelompok militan.

7. Kebijakan Imigran

Pada akhir 2015, Turki dan Uni Eropa mencari jalan keluar terkait krisis pengungsi. Para pengungsi dari Suriah berupaya mencari suaka politik ke negara-negara Eropa melalui Turki. Lalu para Maret 2016, dihasilkan kesepakatan untuk membatasi arus pencari suaka ke Eropa.

8. Kudeta

Pada 15 Juli 2016, sebuah faksi meluncurkan kudeta terhadap Erdogan yang membuat 249 orang tewas. Namun upaya menjatuhkan pemerintahan Erdogan dilumpuhkan hanya dalam hitungan jam.

Erdogan menyalahkan sekutu Amerika Serikat, Fethullah Gulen, serta menindak tegas para pendukungnya. Ratusan ribu pendukung Gulen di pemerintahan dipecat serta sekitar 50.000 ditangkap.

Pembersihan itu menyebabkan ketegangan dengan negara-negara Eropa, terutama Jerman, untuk mewaspadai pelanggaran hak asasi manusia dan demokrasi.

9. Akrab dengan Rusia

Erdogan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin pada Agustus 2016 untuk memperkuat hubungan. Salah satunya terkait bantuan Rusia kepada Suriah untuk melawan pemberontak Kurdi dan ISIS.

Ini juga langkah Erdogan untuk memulihkan kepercayaan Rusia, setelah jet tempur Negeri Beruang Merah itu ditembak jatuh tentaranya di atas Suriah.

Dua pekan kemudian, Turki meluncurkan operasi militer besar di Suriah utara untuk mendorong para pejuang ISIS dari beberapa kota.

10. Referendum 2017

Mayoritas pemilih Turki menyetujui perubahan konstitusi pada April 2017 yang memperluas kekuasaan presiden, termasuk menunjuk menteri secara langsung dan menggagalkan jabatan perdana menteri.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut