Rekor Lagi, Jumlah Kematian akibat Covid-19 di Brasil Tembus 70.000

Arif Budiwinarto ยท Sabtu, 11 Juli 2020 - 10:48:00 WIB
 Rekor Lagi, Jumlah Kematian akibat Covid-19 di Brasil Tembus 70.000
Petugas penggali makam di Brasil (foto: AFP)

BRASILIA, iNews.id - Brasil mencatatkan rekor baru kematian akibat Covid-19 menembus angka 70.000. Sementara kasus baru Covid-19 per hari masih terus bertambah yakni lebih dari 45.000 dalam 24 jam.

Dari keterangan Kementerian Kesehatan yang dikutip dari AFP, Sabtu (11/7/2020), Brasil mendapat tambahan kasus baru Covid-19 sebanyak 45.000 dan kematian 1.200 pada Jumat (10/7/2020) kemarin.

Dengan demikian, total sudah 1,8 juta orang terinfeksi Covid-19 di negara Amerika Latin itu dan jumlah kematian menjadi 70.400. Angka-angka tersebut menjadikan negara berpopulasi 212 juta jiwa itu berada di urutan dua negara paling terdampak pandemi Covid-19 setelah Amerika Serikat.

Jumlah kematian di Brasil akibat Covid-19 melonjak berkali lipat dalam kurun waktu 35 hari terakhir, dimana Sao Paolo dan Rio de Janeiro menjadi dua kota paling banyak mencatat angka kematian masing-masing 17.400 dan 11.200.

Jika dirata-ratakan per populasi, Brasil mencatatkan angka kematian 335 per satu juta penduduk, lebih rendah daripada Amerika Serikat dengan 403 kematian per satu juta penduduk dan Spanyol 607 kematian per satu juta penduduk.

Sedangkan bila dihitung dalam empat dari lima pekan terakhir, rata-rata kematian di Brasil menyentuh angka 1.000 per hari.

Meskipun penyebaran dan angka kematian akibat Covid-19 masih tergolong tinggi, pemerintah sejumlah negara bagian berani mengambil kebijakan berisiko yakni dengan melonggarkan karantina wilayah (lockdown). Di Rio de Janeiro dan Sao Paolo, bar dan wisata pantai sudah kembali dipadati pengunjung.

"Proyeksi kami menunjukkan bahwa skenario ini, jumlah kasus akan terus meningkat sampai Oktober-November secara fluktuatif," kata Domingos Alves, Koordinator Laboratorium Fakultas Kesehatan di Sao Paolo.

"Itu akan menjadi efek dari relaksasi, berlawanan dari bukti yang dikumpulkan semua negara mengikuti rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)."

"Ini tidak akan jadi gelombang kedua tetapi merupakan perpanjangan dari yang pertama," lanjutnya.


Editor : Arif Budiwinarto