Remaja Ukraina Diajarkan Gunakan Senjata untuk Melawan Rusia
"Kami tak pernah mengarahkan senjata kepada orang-orang. Tapi kami tidak percaya dengan separatis, pria hijau kecil, penjajah dari Moskow, sebagai manusia. Jadi kami bisa dan harus membidik mereka,” kata Yuri, kepada para remaja, dikutip dari Associated Press, Senin (12/11/2018).
Meskipun kelompok nasionalis dituduh sebagai pelaku kekerasan dan rasisme, mereka tetap mempertahankan hubungan dengan pemerintah serta menjadi relawan dalam konflik Ukraina dengan Rusia. Awal tahun ini, Kementerian Pemuda dan Olahraga mengalokasikan dana 4 juta hryvnias atau sekitar Rp2,2 miliar untuk membiayai sejumlah kamp pemuda nasionalis. Tujuannya sebagai pendidikan patriotik nasional.
Cherkashin merupakan veteran perang melawan separatis pro-Rusia di timur Ukraina. Setelah itu, dia memimpin Sokil atau Falcon, sayap pemuda Partai Svoboda.
Menurut dia penting untuk mengindoktrinasi pemuda dengan pemikiran nasionalis, sehingga mereka dapat berperang melawan negara yang dipimpin Vladimir Putin serta menghadapi berbagai tantangan yang dapat menghancurkan peradaban Eropa.
Layaknya tentara sungguhan, mereka dibangunkan di tengah malam dengan ledakan granat. Mereka lalu keluar dengan cepat sambil mengambil senapan AK-47 yang bagi sebagian peserta panjangnya hampir sama degan tinggi mereka. Mereka juga diharuskan membawa senapan berat sepanjang hari, termasuk peserta perempuan.