Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Prabowo Pimpin Ratas di Hambalang, Bahas Pembangunan 10 Kampus Kerja Sama RI-Inggris
Advertisement . Scroll to see content

Rencana Pembunuhan PM Inggris Theresa May Terungkap, Ini Kisahnya

Kamis, 19 Juli 2018 - 09:57:00 WIB
Rencana Pembunuhan PM Inggris Theresa May Terungkap, Ini Kisahnya
Perdana Menteri Inggris Theresa May. (Foto: PA)
Advertisement . Scroll to see content

LONDON, iNews.id - Seorang pemuda putus kuliah yang ingin membalas dendam atas kematian pamannya di Suriah didakwa berencana melakukan penyerangan ke Downing Street, London. Pria itu berencana membunuh Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May.

Pemuda bernama Naa'imur Rahman itu didakwa di Pengadilan Pidana Inggris setelah dirinya terperangkap dalam operasi penyamaran melibatkan Badan Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI), badan intelijen Inggris (MI5), dan kepolisian.

Operasi berlangsung sesaat setelah Rahman meminta bantuan dari seorang anggota kelompok radikal untuk menyerang kediaman PM May di London. Rahman kemudian menemui dua orang dan berulang kali meminta bom.

Hal yang tak diketahui pemuda berusia 20 tahun itu, orang yang dia minta bantuan merupakan agen FBI yang menyamar. Selain merencanakan pembunuhan, Rahman mengaku mencoba membantu seorang pria meninggalkan Inggris untuk bergabung dengan kelompok ISIS.

Naa'imur Rahman didakwa berencana melakukan penyerangan ke Downing Street, London, untuk membunuh PM Inggris Theresa May. (Foto: doc. Metropolitan Police)

Pada musim panas 2017, Rahman menjadi tunawisma di London setelah bertengkar dengan ibu dan keluarga dekatnya di Walsall, tempat dia dibesarkan. Tiga tahun sebelumnya, Rahman dimasukkan ke program deradikalisasi Inggris, Channel, lantaran ada kekhawatiran dicuci otak oleh pamannya.

Saat diselidiki pada 2017 atas kasus mengirim pesan singkat bernada pecehan seksual kepada seorang gadis di bawah umur, intelijen mendapati di ponselnya jejak pria itu menjalin kontak dengan pamannya.

Paman Rahman ialah Musadikur Rohaman. Dia bertolak dari Inggris ke Suriah pada 2014.

Dalam persidangan di Pengadilan Pidana Inggris terungkap, Rohaman mendorong keponakannya untuk menyerang Inggris dan mengirim cara pembuatan bom.

Namun pada Juni 2017, Rohaman tewas akibat serangan drone di Raqqa. Setelah mengetahui kematian pamannya, menurut jaksa, Rahman merencanakan balas dendam.

Paman Naa'imur Rahman, Musadikur Rohaman, yang tewas akibat akibat serangan drone di Raqqa. (Foto: doc. Metropolitan Police)

Untuk mendapat sokongan, dia menjalin kontak dengan anggota ISIS di media sosial. Namun, dia tidak tahu jika orang yang disangkanya anggota ISIS merupakan agen FBI.

Agen tersebut kemudian memberikan informasi mengenai Rahman kepada tim MI5. Para personel badan keamanan itu lalu meyakinkan Rahman mereka merupakan anggota ISIS.

"Saya ingin melakukan bom bunuh diri di parlemen. Saya ingin mencoba membunuh Theresa May. Yang saya perlukan sekarang adalah anggota yang bisa mengakomodasi saya," kata Rahman, kepada para personel MI5 yang menyamar.

Walau Rahman tidak profesional karena tak mendapat pelatihan cukup, MI5 khawatir dia tetap nekad. Kepala badan antiterorisme meluncurkan operasi penyamaran untuk mengumpulkan bukti-bukti niat tersebut.

Operasi tersebut diawali tim MI5 dengan mengenalkan Rahman kepada seorang polisi di London yang menyamar sebagai penyalur senjata kelompok ISIS. Pertemuan antara Rahman dengan 'Shaq' di dalam mobil direkam secara diam-diam oleh MI5 dan disaksikan para juri di persidangan.

PM Inggris Theres May saat keluar dari kediamannya di Downing Street, London. (Foto: Reuters)

Pada pertemuan tersebut, Rahman menceritakan soal kematian pamannya. Dia kemudian meminta truk berisi bom dan senjata api, meski dia mengaku tidak bisa menyetir atau melepaskan tembakan.

Rahman kemudian menegaskan tekadnya untuk menyerang Downing Street dan berusaha membunuh Theresa May.

Pada 6 November 2017, Rahman memaparkan rencananya ke 'Shaq'. Tanpa dia sadari, pembicaraan itu direkam dan ditayangkan di persidangan.

"Saya membuat rencana dan mematangkannya secara rinci di dalam kepala. Kamu tahu gerbang di Downing Street? Ada sekitar empat orang di situ? Dan dua orang di pintu? Saya ingin menerobos gerbang itu dan jika saya bisa sampai ke pintu, saya ingin berlari menuju Theresa May. Dia tidur di sana setiap malam," ujar dia.

Shaq kemudian meminta Rahman memaparkan rencananya.

"Jika saya punya ransel berisi barang-barang dan saya beraksi di gerbang dan melewatinya, lari kencang 10 detik ke pintu," kata Rahman

Shaq kemudian menimpali, "Saya akan jujur dengan Anda. Saya tidak pernah terpikir soal itu."

Rahman menjelaskan lebih jauh, bertekad memenggal kepala PM May.

Rahman mengaku tidak mampu mendanai penyerangan itu karena dia tak punya uang dan rumah. Dia kemudian menyerahkan jaket dan ranselnya lalu meminta kedua barang itu diisi dengan bahan peledak.

Shaq lalu mengisi jaket dan ransel tersebut dengan bom palsu.

Rahman mengambil kedua barang itu dari tangan Shaq dan berkata, "Anda tahu? Sekarang setelah saya melihat semuanya, rasanya saya siap."

Sesaat setelah berjalan menjauh dari lokasi pertemuan dengan Shaq, Rahman dikepung polisi dan ditangkap. Dalam persidangan, Rahman mengaku rencananya itu tidak serius.

Kepada para juri di pengadilan, Rahman mengaku salah satu rencananya adalah membuat balon berisi misil. Rahman mengklaim dirinya dijebak dan ditipu MI5 serta polisi.

Akan tetapi, jaksa menunjukkan bukti Rahman mengintai Downing Street, gedung parlemen, dan gedung pemerintahan di dekatnya.

Editor: Nathania Riris Michico

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut