Riset: Strain Covid-19 di Beijing dari Asia Selatan atau Asia Tenggara

Antara ยท Kamis, 02 Juli 2020 - 17:00 WIB
Riset: Strain Covid-19 di Beijing dari Asia Selatan atau Asia Tenggara

Polisi berjaga di depan gerbang Pasar Xinfadi di Beijing saat wabah virus corona mulai muncul kembali di kota itu, Juni lalu. (Foto: AFP)

BEIJING, iNews.id – Salah satu strain atau galur virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) penyebab Covid-19, yang menyerang lebih dari 300 warga di Kota Beijing, China, pada awal Juni kemungkinan berasal dari Asia Tenggara atau Asia Selatan. Kesimpulan itu diperoleh lewat hasil penelitian Universitas Harvard AS.

Wabah baru Covid-19 di Bejing membuat banyak pihak khawatir terhadap kemungkinan China menghadapi gelombang kedua penyebaran virus mematikan itu. Menurut Pusat Pengawasan dan Pencegahan Penyakit Menular China, galur virus yang ditemukan di Beijing berasal dari luar negeri.

Kajian dari Harvard, yang telah diterbitkan di laman medRxiv.org, Selasa (30/6/2020), memeriksa tiga urutan genom SARS-CoV-2 yang dikumpulkan di Beijing bulan lalu. Tiga urutan genom itu kemudian dibandingkan dengan 7.643 sampel virus dari seluruh dunia.

Pemeriksaan oleh para peneliti Harvard menunjukkan tiga genom itu menunjukkan tingkat kemiripan tinggi dengan kasus di Eropa pada Februari sampai Mei, dan beberapa kasus di Asia Selatan dan Asia Tenggara pada Mei sampai Juni. Kendati demikian, hasil riset itu masih belum dievaluasi oleh ilmuwan lainnya (peer-reviewed), sehingga belum dapat dianggap sebagai temuan final dan tidak dapat digunakan sebagai acuan.

Para peneliti mengatakan galur virus itu juga ditemukan dalam jumlah sedikit di China pada Maret. Temuan itu mengindikasikan virus itu pertama kali muncul di Tiongkok dan kembali lagi ke negara tersebut tiga bulan setelahnya.

“Beberapa kasus penularan baru dari galur virus ini sebagian besar dari Asia Tenggara dan Asia Selatan, dan temuan ini kemungkinan menunjukkan kasus baru di Beijing disebabkan oleh penularan dari Asia Tenggara/Selatan,” tulis para peneliti seperti dilansir Reuters, Kamis (2/7/2020).

Wabah Covid-19 di Beijing berasal dari Pasar Induk Xinfadi pada 11 Juni. Setidaknya, per Rabu (1/7/2020) kemarin, sudah 329 orang dari klaster itu dinyatakan positif tertular virus corona.

Setelah kasus pertama di pasar Xinfadi ditemukan, pemerintah memberlakukan karantina dan pemeriksaan skala besar kepada penduduk sekitar. China juga mewajibkan seluruh daging impor menjalani pemeriksaan Covid-19 sebelum mereka dapat meninggalkan pelabuhan.

Virus SARS-CoV-2 ditemukan pertama kali di pasar basah Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China pada akhir Desember tahun lalu. Sampai saat ini, virus itu telah menginfeksi hampir 11 juta orang dan membunuh lebih dari 500.000 jiwa di seluruh dunia.

Editor : Ahmad Islamy Jamil