Rusia Jatuhkan 9 Bom ke Bangunan Sekolah di Ukraina, 33 Orang Tewas 50 Hilang
MOSKOW, iNews.id - Serangan pasukan Rusia terhadap sekolah di Komyshuvakha, Zaporizhzhia, Ukraina, Senin (2/11/2026), menewaskan puluhan orang. Militer Rusia disebut menjatuhkan sembilan bom di gedung sekolah yang digunakan sebagai tempat berlindung oleh warga.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut peristiwa itu sebagai salah satu serangan paling mematikan sejak perang berlangsung pada Februari 2022. Setidaknya 33 orang tewas dan 50 lainnya hilang akibat serangan tersebut.
Zelensky mengatakan, serangan itu terjadi tepat saat bantuan kemanusiaan sedang didistribusikan.
“Sangatlah bermakna bahwa semua ini terjadi tepat pada hari pemilu Kongres AS. Pihak Rusia mungkin mengira AS tidak akan menyadari sinyal yang mereka kirimkan ini. Namun, teror semacam ini harus diperhatikan dan dihentikan,” ujar Zelensky, seperti dikutip dari CNN, Rabu (4/11/2026).
Gubernur Zaporizhzhia, Mykhailo Semikin, mengatakan bangunan itu digunakan sebagai tempat perlindungan dan pusat distribusi bantuan kemanusiaan.
Semikin menjelaskan, orang-orang tersebut berada di ruang bawah tanah yang strukturnya telah diperkuat.
Lokasi tersebut dibangun baru-baru ini dengan pendanaan dari Uni Eropa. Desainnya dibuat untuk menahan serangan besar. Meski demikian, kekuatan dahsyat dari bom-bom tersebut menyebabkan struktur beton runtuh hingga memicu kebakaran.
Tempat perlindungan tersebut dibangun tahun lalu sebagai upaya untuk tetap menjalankan kegiatan belajar-mengajar di masa perang. Namun, banyak warga sipil mengungsi seiring semakin gencarnya pertempuran ke wilayah tersebut. Oleh karena itu, bangunan tersebut tidak lagi digunakan sebagai sekolah. Sebaliknya, otoritas setempat memanfaatkannya sebagai pusat administrasi dan bantuan kemanusiaan.
Serangan terbaru Rusia ini terjadi di tengah upaya terbaru untuk mendorong negosiasi yang diinisiasi oleh pemerintahan Presiden Donald Trump. Utusan AS Steve Witkoff baru-baru ini bertemu dengan Zelensky di Norwegia guna membuka peluang pertemuan langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Editor: Anton Suhartono