Seks Bebas saat Karantina Jadi Pemicu Tingginya Kasus Baru Covid-19 di Melbourne

Arif Budiwinarto ยท Rabu, 08 Juli 2020 - 15:10 WIB
Seks Bebas saat Karantina Jadi Pemicu Tingginya Kasus Baru Covid-19 di Melbourne

Pasangan tengah menjalani karantina di sebuah hotel di kota Melbourne (foto: Dailymail)

MELBOURNE, iNews.id - Aturan pembatasan wilayah atau lockdown kembali berlaku di kota Melbourne, Australia mulai Kamis (9/7/2020) besok. Munculnya ratusan kasus baru Covid-19 diklaim karena kesalahan dalam penerapan aturan karantina.

Lockdown selama enam pekan akan diterapkan di seluruh kawasan Melbourne Metropolitan dan wilayah Mitchell Shire yang meliputi kawasan Broadford, Kilmore, Seymour, Tallarook, Pyalong dan Wallan.

Melbourne yang merupakan ibu kota negara bagian New South Wales (NSW) mencatatkan penambahan kasus baru Covid-19 sebanyak 191, dengan 37 diantaranya berkaitan dengan penularan yang sudah diketahui, sementara 154 lainnya masih diselidiki.

Dengan tambahan kasus dari Melbourne tersebut maka di negara bagian Victoria terdapat 722 kasus aktif Covid-19. Fakta ini terbilang mengejutkan, sebab pada Juni lalu Victoria tergolong negara bagian tersukses dalam menekan penyebaran Covid-19.

Otoritas kesehatan Victoria memberlakukan aturan bagi penduduk maupun pendatang yang baru tiba dari luar negeri harus menjalani karantina selama 14 hari di hotel yang disewa oleh pemerintah.

Namun, aturan tersebut dalam pelaksanaannya di beberapa kota termasuk Melbourne tidak berjalan sesuai dengan aturan yang ditetapkan. Herald Sun melaporkan di Melbourne hotel untuk karantina dijaga oleh petugas keamanan lokal tanpa melibatkan proses kontrak dengan pemerintah.

Dalam menjalankan tugasnya, mereka juga tak diberi pengarahan atau perlengkapan perlindungan yang sesuai. Parahnya lagi, pengawasan mereka sangat longgar sehingga memungkinkan banyak keluarga bercampur, bahkan beberapa penjaga malah berhubungan seks dengan tamu yang tengah menjalani karantina.

Laporan lainnya menyebut virus menyebar di antara para penjaga yang mengumpulkan atau saling pinjam pemantik api untuk menyalakan rokok. Mereka kemudian tanpa sadar membawa Covid-19 ke komunitas mereka yang mayoritas berada di pinggiran Melbourne.

Dengan karakteristik wilayah yang terbilang kumuh virus diyakini sangat mudah menyebar sebab penduduk sama sekali tidak menjalankan protokol kesehatan seperti menggunakan masker dan menjaga jarak (physical distancing).

Pegiat Sosial, Linfa Wang, mengkritik kebijakan Pemerintah Negara Bagian Victoria yang lalai memperhatikan penyampaian informasi dalam penanganan Covid-19. Pemerintah dinilai terlalu eksklusif sehingga warga lapisan bawah yang tinggal di daerah pinggiran sangat minim paparan mengenai protokol kesehatan.

"Membuka diri jelas adalah hal alami dimana Anda memiliki kontrol yang sukses," kata Wang.

"Tetapi, apakah masyarakat dan setiap warga negara siap serta cukup teredukasi untuk meyesuaikan dengan kenormalan baru Covid-19," lanjutnya.

Editor : Arif Budiwinarto