Sengketa Maritim dengan Malaysia, Singapura: Kedaulatan Kami Dilanggar

Nathania Riris Michico ยท Jumat, 07 Desember 2018 - 08:59 WIB
Sengketa Maritim dengan Malaysia, Singapura: Kedaulatan Kami Dilanggar

Johor Bahru, kota di Malaysia seperti tampak dalam foto yang diambil pada 4 Mei 2018, dari Singapura. (Foto: Getty Images)

SINGAPURA, iNews.id - Singapura memperluas batas pelabuhan di lepas perairan Tuas dan menyatakan tak akan ragu mengambil tindakan tegas bila ada intrusi. Hal itu ditegaskan Menteri Transportasi Singapura Khaw Boon Wan.

Intrusi merupakan perembesan air laut ke dalam lapisan tanah sehingga terjadi percampuran air laut dengan air tanah.

Khaw Boon Wan mengatakan, mereka memperluas pelabuhan Singapura untuk menanggapi "provokasi" Malaysia, yang memperluas pelabuhan Johor Bahru.

Pada Kamis (6/12/2018), Khaw mengatakan terjadi 14 kali intrusi ke perairan Singapura di lepas Tuas dalam dua pekan terakhir, setelah Malaysia memperluas batas pelabuhan yang diumumkan pada 25 Oktober lalu.

Baca juga: Warganet Malaysia Marah Cendol Disebut dari Singapura

Langkah Singapura ini dilakukan setelah mereka mengerahkan angkatan laut pekan ini.

Singapura menyatakan Malaysia mencaplok kawasannya dengan memperluas pelabuhan Johor Bahru. Menanggapi hal ini, Malaysia menjawab dengan mengusulkan pertemuan.

"Kita dapat mengukur dengan melihat apakah benar atau tidak kami mencaplok (wilayah Singapura) atau apakah kami masih berada di perairan kami," kata Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad, seperti dilaporkan Malaysiakini, Jumat (7/12/2018).

Baca juga: Mahathir Mohamad Batalkan Proyek Kereta Cepat Malaysia-Singapura

Khaw mengatakan, dia menerima usulan pertemuan namun mengatakan Singapura harus membalas untuk membela kedaulatan. Dia menunjuk pada patroli yang dilakukan oleh badan kelautan Malaysia, Marine Enforcement Agency, di lepas perairan Tuas.

"Badan keamanan kami sejauh ini membalas dengan menahan diri terhadap aksi agresif kapal-kapal Pemerintah Malaysia," kata Khaw.

"Namun Singapura tidak dapat membiarkan kedaulatan kami dilanggar."

"Karena itu, bila perlu, kami tidak akan ragu-ragu untuk mengambil langkah tegas terhadap intrusi dan kegiatan tak berizin di perairan kami guna melindungi wilayah dan kedaulatan kami," katanya.

Baca juga: Mahathir Kritik Kesepakatan Suplai Air dengan Singapura: Terlalu Mahal

Singapura dan Malaysia juga terlibat dalam sengketa terkait beberapa pulau karang termasuk Pedra Branca di Selat Singapura pada 1979.

Pedra Branka terletak sekitar 24 mil laut dari Singapura dan 7,7 mil laut dari garis pantai Malaysia.

Pada 2008, Mahkamah Internasional menetapkan Pedra Branca milik Singapura.

Singapura menggunakan kawasan laut untuk memperluas pulau-pulau melalui proyek reklamasi termasuk pulau Jurong yang berukuran 32 kilometer persegi.

Baca juga: Heboh, Kemlu AS Anggap Singapura Bagian dari Malaysia

Pada 2003, Malaysia mengatakan Singapura melanggar batas wilayah dengan melakukan proyek reklamasi di Selat Johor. Sengketa itu diselesaikan melalui proses arbitrasi.

Kedua negara tampaknya akan terlibat dalam sengketa teritorial lagi di tengah laporan bahwa Malaysia berupaya mengaktifkan lagi proyek jembatan yang menghubungan dua negara.

Proyek ini pertama kali diajukan oleh Mahathir pada masa kepemimpinannya pada 2003 untuk mengurangi kemacetan, namun Singapura merasa proyek itu tidak bermanfaat. Proyek itu kemudian dibatalkan oleh perdana menteri berikutnya, Abdullah Ahmad Badawi.


Editor : Nathania Riris Michico