Simpang Siur, Riset AS Klaim Remdesivir Berguna Obati Corona tapi Kata China Tidak

Ahmad Islamy Jamil ยท Kamis, 30 April 2020 - 12:33 WIB
Simpang Siur, Riset AS Klaim Remdesivir Berguna Obati Corona tapi Kata China Tidak

Obat remdesivir yang dikembangkan perusahaan AS, Gilead Sciences. (Foto: AFP)

UPAYA penyembuhan pasien virus corona (Covid-19) dengan menggunakan obat antivirus remdesivir dianggap tidak menunjukkan manfaat klinis yang signifikan. Kesimpulan itu diperoleh dari uji coba awal jenis obat tersebut secara acak di China, yang hasil penelitiannya dirilis Rabu (29/4/2020) kemarin.

Hasil penelitian yang melibatkan lebih dari 200 pasien Covid-19 di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, itu diterbitkan dalam jurnal kesehatan The Lancet. Para dokter yang terlibat dalam riset itu menemukan bahwa tidak ada efek positif pemberian remdesivir kepada pasien Covid-19 yang diuji coba, bila dibandingkan dengan kelompok kontrol (pasien lain yang tidak diberikan obat yang sama).

Temuan itu dirilis tak lama setelah raksasa farmasi AS, Gilead, mengungkapkan hasil penelitian lain bahwa uji coba remdesivir dalam skala besar menunjukkan hasil positif.

“Sayangnya, uji coba kami menemukan bahwa walaupun aman dan ditoleransi secara memadai, remdesivir tidak memberikan manfaat yang berarti dibandingkan dengan plasebo. Ini tentunya bukan hasil yang kita harapkan,” kata peneliti dari Rumah Sakit Persahabatan China-Jepang dan Universitas Kedokteran Ibu Kota di China, Bin Cao, selaku pemimpin penelitian itu dikutip AFP, Rabu (29/4/2020).

Penelitian di Wuhan itu dilakukan terhadap 237 pasien Covid-19. Setengah dari mereka diberi remdesivir. Sementara, yang setengah lagi diperlakukan sebagai kelompok kontrol (tidak diberi remdesivir) dan hanya mendapatkan antibiotik standar. Hasilnya, tingkat kematian pada dua kelompok yang diamati itu adalah sama, yakni masing-masing sekitar 14 persen.

Namun pasien dengan ventilator yang diberikan remdesivir menghabiskan waktu jauh lebih singkat untuk menggunakan alat bantu pernapasan itu, dibandingkan kelompok kontrol. Perbandingan rata-ratanya yaitu 7 hari berbanding 15 hari.

“Namun, tidak ada perbedaan signifikan yang dicatat antara kedua kelompok dalam hal durasi dukungan oksigen; lama tinggal di rumah sakit, dan; waktu perawatan yang dihabiskan hingga keluar dari rumah sakit atau meninggal dunia,” demikian laporan penelitian itu.

Para peneliti mengatakan, riset ini memiliki beberapa keterbatasan, termasuk fakta bahwa penelitian mereka dihentikan sebelum waktunya, ketika jumlah pasien menurun drastis sebagai hasil positif dari kebijakan lockdown yang ketat di Wuhan. Karenanya, mereka meminta uji coba remdesivir secara acak lebih lanjut.

Klaim Amerika Serikat

Sementara, hasil uji klinis terhadap pasien Covid-19 yang menggunakan remdesivir di AS dikatakan sembuh sekitar 30 persen lebih cepat daripada mereka yang menggunakan plasebo. Hasil eksperimen yang diumumkan Rabu (29/4/2020) ini pun menuai pujian dari ahli epidemiologi di negeri Paman Sam.

Institut Alergi dan Penyakit Menular Nasional (NIAID) AS selaku lembaga yang mengawasi riset ini menyatakan, pasien Coivd-19 yang menggunakan remdesivir memiliki waktu penyembuhan 31 persen lebih cepat daripada mereka yang menggunakan plasebo. Secara khusus, waktu rata-rata untuk penyembuhan pasien Covid-19 yang diberi obat buatan Gilead Sciences itu adalah 11 hari. Sementara, pasien yang diberi plasebo butuh waktu 15 hari untuk pulih kembali.

“Data menunjukkan bahwa remdesivir memiliki dampak positif yang jelas, signifikan, dalam mengurangi waktu penyembuhan pasien. Temuan ini sangat penting, karena penelitian membuktikan bahwa obat dapat memblokir virus (Covid-19) ini,” ujar Direktur NIAID, Anthony Fauci, kepada wartawan di Gedung Putih, dikutip AFP, Kamis (30/4/2020).

Hasil penelitian ini juga menunjukkan, pasien yang memakai remdesivir cenderung lebih sedikit yang meninggal, meskipun perbedaannya terbilang kecil dibandingkan mereka yang tidak diberikan obat itu. Tingkat kematian pada pasien yang menggunakan remdesivir adalah 8,0 persen, sedangkan tingkat kematian kelompok pasien yang diberikan plasebo 11,6 persen.

Uji coba di AS ini dimulai pada 21 Februari lalu dengan melibatkan 1.063 orang di 68 lokasi di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia. Baik pasien maupun dokter, tidak mengetahui dari kelompok mana mereka berasal, untuk menghilangkan bias yang tidak disadari.

Gilead Sciences, laboratorium AS yang memproduksi remdesivir, berencana menyumbangkan 1,5 juta dosis obat itu untuk merawat setidaknya 140.000 pasien Covid-19. “Selanjutnya, perusahaan kami akan menjual obat ini dengan harga terjangkau,” kata Pimpinan Gilead Sciences, Daniel O'Day, kepada situs berita kesehatan Stat.

Sementara, ahli epidemiologi di Universitas Oxford, Peter Horby, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, belum sepenuhnya percaya pada hasil studi yang diklaim AS tersebut. “Kita perlu melihat hasil lengkap penelitiannya. Tetapi jika temuan itu telah dikonfirmasi, ini akan menjadi hasil yang fantastis dan berita bagus untuk perang melawan Covid-19,” tuturnya.

Pandangan yang kurang lebih sama juga diungkapkan para peneliti medis internasional lainnya. Mereka berpendapat, remdesivir mungkin punya manfaat untuk penyembuhan Covid-19. Tapi bila melihat hasil penelitian yang diajukan Gilead Sciences, tidak ada yang terlalu istimewa dari obat itu.

“Ini adalah bukti pertama bahwa remdesivir memiliki manfaat asli, tetapi tentu saja itu tidak dramatis,” kata pakar statistik medis di London School of Hygiene dan Tropical Medicine, Stephen Evans.

“Data ini menjanjikan, dan mengingat bahwa kita belum memiliki pengobatan yang terbukti untuk Covid-19. Penelitian ini mungkin mengarah pada persetujuan cepat untuk penggunaan remdesivir. Namun, itu juga menunjukkan bahwa remdesivir bukanlah ‘peluru ajaib’,” kata peneliti utama di Fakultas Kedokteran Universitas Tsinghua Beijing, Babak Javid.

Editor : Ahmad Islamy Jamil