Suasana Idul Fitri di Berbagai Negara saat Wabah Virus Corona

Anton Suhartono · Minggu, 24 Mei 2020 - 15:37 WIB
Suasana Idul Fitri di Berbagai Negara saat Wabah Virus Corona

Umat Islam melaksanakan Salat Id di Hebron, Tepi Barat (Foto: AFP)

JAKARTA, iNews.id - Umat ​​Islam di seluruh dunia merayakan Idul Fitri 1441 Hijriah dalam suasana yang tidak bisa terkait pembatasan virus corona. Di beberapa negara ada pelonggaran di mana umat Islam masih bisa melaksanakan Salat Id berjamaah di lapangan atau masjid.

Beberapa negara, seperti Arab Saudi, Mesir, Turki, dan Suriah melarang Salat Id berjamaah di masjid dan lapangan. Namun Masjidil Haram dan Masjid Nabawi tetap melaksanakan meskipun jumlah jemaahnya dibatasi.

Raja Salman beberapa pekan waktu lalu mengumumkan penerapan larangan keluar 24 jam bagi warga selama 5 hari libur Idul Fitri, terhitung mulai Sabtu (23/5/2020).

Sejauh ini Saudi mengumumkan sekitar 68.000 kasus Covid-19, tertinggi dibandingkan negara Teluk lainnya.

Perayaan Idul Fitri juga tak meriah di Masjid Al Aqsa, Yerusalem, padahal tempat suci ketiga bagi umat Islam itu selalu ramai setiap perayaan Idul Fitri. Namun pengelola menjanjikan Masjid Al Aqsa akan dibuka segera setelah libur Idul Fitri.

Di Lebanon, otoritas keagamaan tertinggi Sunni mengumumkan pembukaan kembali masjid hanya untuk Salat Jumat. Jemaah diwajibkan menjalani pemeriksaan suhu sebelum masuk.

Sementara itu, muslim di negara Asia, seperti Indonesia, Pakistan, Malaysia dan Afghanistan, memadati pasar untuk belanja. Sebagian memang sudah dilonggarkan tapi banyak yang melanggar protokol kesehatan wabah virus corona.

"Selama lebih dari 2 bulan anak-anak saya tinggal di rumah. Perayaan ini untuk anak-anak. Jika mereka tidak bisa merayakan dengan baju baru, tidak ada gunanya kita bekerja keras sepanjang tahun," kata Ishrat Jahan, ibu dari empat anak, ditemui di pasar Kota Rawalpindi, Pakistan, dikutip dari AFP, Minggu (24/5/2020).

Lebih dari 3.500 warga Tunisia di luar negeri mudik sebelum liburan Idul Fitri. Namun mereka harus menjalani karantina 14 hari di hotel sehingga tetap tak bisa berlebaran bersama keluarga.

Atef Maherzi, seorang dokter yang baru pulang dari Arab Saudi, mengatakan dia terpaksa bersilaturahim bersama keluarga melalui Skype.

Angka kematian Covid-19 di seluruh Timur Tengah dan Asia lebih rendah dibandingkan Eropa dan Amerika Serikat, namun jumlah korban terinfeksi terus meningkat, memicu kekhawatiran fasilitas-fasilitas kesehatan akan dibanjiri para korban.

Iran, salah satu negara terparah di Timur Tengah, menyerukan warganya untuk menghindari bepergian selama Idul Fitri. Pemerintah masih berjuang mengendalikan tingkat infeksi.

Iran menutup sekolah-sekolah dan tempat ibadah serta melarang perjalanan antarkota untuk liburan Tahun Baru Persia pada Maret.

Uni Emirat Arab memperketat lockdown, dengan memajukan jam malam, yakni dari pukul 22.00 menjadi 20.00 waktu setempat selama Ramadan.

Namun hal itu tidak menghentikan keluarga untuk berlibur dengan menginap di hotel mewah di tepi pantai di Ajman atau Ras Al Khaimah.

Editor : Anton Suhartono