Sudan Akui Butuh Israel, tapi Masih Ingin Perjuangkan Hak Palestina

Arif Budiwinarto ยท Sabtu, 03 Oktober 2020 - 11:05:00 WIB
Sudan Akui Butuh Israel, tapi Masih Ingin Perjuangkan Hak Palestina
Wakil Kepala Negara Sudan, Jenderal Mohammad Hamdan Daglo (tengah). (foto: AP)

KHARTOUM, iNews.id - Wakil Kepala Negara Sudan, Jenderal Mohammad Hamdan Daglo, mengatakan bahwa negaranya kemungkinan akan segera menjalin hubungan dengan Israel. Dia menyebut Sudan membutuhkan Israel dan akan mendapatkan keuntungan dari hubungan tersebut.

"Israel telah berkembang. Seluruh dunia bekerja sama dengan Israel. Untuk pembangunan dan pertanian kami membutuhkan Israel," kata Jenderal Daglo dikutip dari Times of Israel, Sabtu (3/10/2020).

Namun, Jenderal Daglo memastikan hubungan dengan Israel tidak akan terjalin secara penuh, karena Sudan masih menaruh perhatian pada kepentingan warga Palestina. Sayangnya, dia enggan menjelaskan apa sebenarnya perbedaan antara relasi negara dan normalisasi.

"Kami tidak takut pada siapa pun. Ini akan menjadi sebuah hubungan dua negara, tetapi bukan normalisasi. Hubungan, bukan normalisasi. Jelas?," ujarnya.

"Benar, masalah Palestina adalah faktor pentingnya, dan kami harus mendukung orang-orang Palestina." lanjutnya.

Pernyataan Jenderal Daglo didorong upaya Amerika Serikat untuk menekan negara-negara kawasan Arab, termasuk Sudan agar menormalisasi hubungan dengan Israel dengan imbalan bantuan keuangan dan penghapusan dari daftar 'negara teroris'.

Sementara itu, pemerintah Islam Sudan mengumumkan menentang rencana Khartoum menormalisasi hubungan Israel.

Media lokal menyebut penentangan tersebut merupakan Fatwa Islam--opini hukum berdasarkan hukum Islam--yang dikeluarkan kelompok Islam setelah mencuatnya kabar Sudan-Israel akan seger menormalisasi hubungan diplomatik.

Amerika Serikat menyebut Sudan sebagai negara potensial menjalin hubungan diplomatik dengan Israel mengikuti jejak Uni Emirat Arab yang memperbaiki hubungan dengan negara Yahudi pada Agustus kemudian disusul Bahrain pada September.

Pejabat Israel telah lama menyatakan keinginannya untuk menjalin hubungan yang lebih baik dengan Sudan, tempat kelahiran resolusi Liga Arab tahun 1967 yang terkenal menentang perdamaian dan normalisasi dengan Israel.

Pembicaraan antara perwakilan Israel, Sudan dan Amerika Serikat sebagai mediator telah berlangsung di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pekan kemarin untuk mencari terobosan normalisasi.

Delegasi Sudan yang dipimpin oleh kepala negara Jenderal Abdel Fattah al-Burhan menyebut pembicaraan berjalan "jujur dan adil" tapi dia tidak merinci isi pertemuan.

Editor : Arif Budiwinarto